Ribuan Pohon Asam di Oebelo Dibabat untuk Proyek Cetak Sawah, Warga Protes

Reporter : Jack Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20261029 WA0021

 

Persoalan pembongkaran menjadi semakin serius karena, menurut Romeo, warga sebelumnya telah menyampaikan keberatan dan menawarkan lokasi alternatif. Dalam pertemuan di kantor desa yang melibatkan warga, pemerintah daerah, dan pihak pengawas, mereka disebut menyepakati agar kawasan hutan asam tidak menjadi sasaran pembukaan lahan.

 

Kesepakatan tersebut dituangkan dalam berita acara. Warga juga mengusulkan agar peta kerja proyek dialihkan ke kawasan yang ditumbuhi pohon duri sehingga pembukaan lahan tidak menghilangkan sumber ekonomi masyarakat.

 

Namun, Romeo menilai tindak lanjut di lapangan tidak sesuai dengan kesepakatan tersebut. Ia menyebut pembongkaran tetap berlangsung di kawasan hutan asam. Karena itu, warga mempertanyakan alasan perubahan pelaksanaan dan apakah peta kerja yang digunakan masih sesuai dengan hasil pertemuan di kantor desa.

 

Selain persoalan kesepakatan, Romeo mempertanyakan pola pembukaan lahan yang menurutnya dilakukan secara terpencar atau melompat-lompat. Ia juga menyoroti belum jelasnya sumber air yang akan digunakan untuk mengairi sawah yang sedang disiapkan.

 

“Buka lahan yang lompat-lompat begini mau jadi apa? Mau atur dia punya gaya pengairan ke mana? Mata air saja tidak ada,” kata Romeo.

 

Menurut dia, jika tujuan kegiatan adalah membuka lahan persawahan, pekerjaan seharusnya direncanakan dalam satu hamparan yang jelas dan didukung sistem pengairan memadai. Ia mempertanyakan kelayakan pembukaan lahan yang dilakukan di sejumlah titik tanpa penjelasan yang memadai mengenai sumber air.

 

Romeo mengaku curiga terhadap pola pelaksanaan proyek tersebut. Namun, kecurigaan itu belum membuktikan adanya penyimpangan. Penjelasan mengenai dasar penentuan lokasi, peta kerja, perencanaan pengairan, dan tahapan pembukaan lahan diperlukan untuk menguji keberatan warga.

 

“Saya mau tanya dulu ke orang-orang itu, ini proyek dibuat untuk tujuan apa? Sosialisasi tidak jelas, kesepakatan tidak ditindaklanjuti. Pokoknya aneh-aneh saja,” ujarnya.

Baca Juga :  Keluarga Gustaf Nabuasa Minta Polisi Usut Dugaan Pembunuhan Berencana

 

Ia menilai proyek tersebut terkesan dipaksakan karena, menurut dia, aspirasi warga dan potensi ekonomi kawasan belum diperhitungkan secara memadai. Romeo menyebut sekitar 60 hektare lahan telah digusur. Angka tersebut masih perlu dicocokkan dengan data pengukuran dan dokumen pelaksanaan proyek.

 

“Kurang lebih sekitar 60 hektare sudah digusur. Sayang sekali. Coba Pak ambil foto dari udara. Saya menyesal dengan perencana yang tidak mau tahu dengan apa yang ada di dalam lahan,” kata Romeo.

 

Persoalan utama, lanjutnya, bukan sekadar mengubah lahan menjadi sawah, melainkan cara perencanaan dilakukan. Ia menilai kondisi kawasan seharusnya diperiksa secara terperinci dengan melibatkan masyarakat yang mengetahui potensi dan pemanfaatan lahan selama ini. Menurut dia, kawasan yang dianggap tidak produktif tidak seharusnya langsung dibongkar tanpa memperhitungkan manfaat lain yang sudah ada.

  • Bagikan