Ribuan Pohon Asam di Oebelo Dibabat untuk Proyek Cetak Sawah, Warga Protes

Reporter : Jack Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20261029 WA0021

Ribuan pohon asam di Oebelo, TTS, dibabat untuk proyek cetak sawah 1.300 hektare. Warga mempersoalkan kesepakatan desa, sumber penghidupan, dan perencanaan pengairan.

Oebelo, TimorSavana.com – Pembukaan lahan untuk proyek cetak sawah dengan target 1.300 hektare di Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), menuai protes warga. Ribuan pohon asam yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat disebut telah dibongkar menggunakan alat berat.

 

Warga mempersoalkan pembukaan kawasan tersebut karena sebelumnya telah ada kesepakatan dalam rapat di kantor desa agar hutan asam tidak dibongkar. Kesepakatan itu, menurut warga, telah dituangkan dalam berita acara, tetapi pelaksanaannya di lapangan dinilai berbeda.

 

Romeo Babys, salah satu warga yang menyuarakan keberatan, mengatakan masyarakat terkejut ketika mengetahui kawasan hutan asam mulai diratakan. Menurut dia, warga baru mengetahui pembongkaran setelah datang untuk mengambil hasil asam.

 

Kawasan itu, kata Romeo, telah lama dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Produksi asam di Oebelo disebut mencapai sekitar 5.000 ton per tahun. Hasilnya menjadi salah satu sumber pendapatan warga, termasuk untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak.

 

“Ini kawasan kami dengan masyarakat manfaatkan untuk ambil dan jual hasil untuk penuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan anak-anak punya biaya sekolah”

 

Selanjutnya, Romeo mempertanyakan cara berpikir pemerintahan dan pihak pelaksana cetak sawah yang secara sadar menghancurkan ruang penghidupan mereka.

 

“Ini potensi yang harus dijaga. Tapi kalau potensi ini dibuat seperti demikian, bagaimana cara berpikir pemerintahan?” kata Romeo.

 

Ia menjelaskan, ketergantungan warga terhadap hasil asam semakin penting karena lahan persawahan lama di wilayah tersebut tidak digarap selama kurang lebih 16 tahun akibat persoalan pengairan. Dalam kondisi itu, hasil asam menjadi salah satu sumber penghidupan yang tetap dapat diandalkan masyarakat.

Baca Juga :  Keluarga Gustaf Nabuasa Minta Polisi Usut Dugaan Pembunuhan Berencana

 

“Sejak 16 tahun lalu saat sawah yang kami garap tidak lagi diusahakan karena masalah pengairan, kami gantung harapan di hasil asam. Begitupun biji pohon duri dan gewang dna lontar. Nah kalau sudah dirusak begini nanti masyarakat maka model kermana”

 

Kawasan hutan asam tersebut menurutnya telah dimanfaatkan secara turun-temurun. Menurut dia, masyarakat dari kampung setempat maupun desa tetangga selama ini dapat mengambil hasil asam di kawasan itu.

 

“Hutan asam ini sudah ada turun-temurun dan orang tua sudah bertahun-tahun ambil hasil asam di sini. Selain itu di sini jadi tempat berlindung ternak,” ujarnya.

 

Ia juga menantang pihak yang mengklaim sebagai pemilik kawasan untuk membuktikan dasar kepemilikannya. Romeo menyatakan, selama ini masyarakat memanfaatkan kawasan tersebut tanpa ada pihak yang datang mengklaim kepemilikan tanaman yang tumbuh di sana.

  • Bagikan