Jublina Widiyanti Kase, S.H, Juru Bicara Keluarga Nabuasa
Soe, TimorSavana.com || Teriakan “bunuh dia” disebut menjadi salah satu potongan peristiwa yang disoroti keluarga almarhum Gustaf Nabuasa dalam rangkaian kejadian berdarah di lokasi percetakan sawah di Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Informasi tersebut disampaikan keluarga melalui sebuah rilis yang diterima redaksi TimorSavana.com. Keluarga mengungkap adanya perdebatan sengit antara JB dan CN, salah satu korban dalam peristiwa tersebut, sebelum Gustaf Nabuasa akhirnya meninggal dunia.
Menurut penelusuran yang disampaikan keluarga, sebelum korban berada di lokasi, sejumlah orang telah lebih dahulu datang ke tempat kejadian. Mereka disebut membawa selembar kertas yang belakangan diketahui sebagai sertifikat tanah.
Kedatangan sejumlah orang tersebut disebut terjadi sebelum rangkaian keributan pecah. Situasi kemudian memanas setelah sebuah dump truck milik korban ditahan oleh JB bersama istrinya, setelah kendaraan tersebut menurunkan material batuan sebanyak lima rit di lokasi.
Ketegangan kemudian berkembang menjadi perdebatan. Dalam rilis keluarga disebutkan JB memulai lagi dengan membantah adanya sosialisai namun CN sebagai kepala desa pada waktu itu langsung menyambut dengan mengatakan bahwa pada saat sosialisasi JB ada dan sebagai orang yang ditunjuk menutup doa pada kegiatan sosialisasi tersebut, bahkan sempat memberikan pertanyaan dalam kegiatan tersebut. Namun, menurut versi keluarga, Jemi Benu kemudian melepaskan tangan dan mulai menyerang kepala desa.
CN disebut berusaha menghindar dengan mundur sambil mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajah. Situasi tersebut kemudian membuat orang-orang yang berada di sekitar lokasi ikut bergerak.
Dalam keterangan keluarga, AT disebut memeluk JB dari belakang untuk menghentikan serangan terhadap kepala desa. Upaya tersebut membuat JB terjatuh dalam posisi duduk di tanah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













