Soe, TimorSavana.com || Rangkaian peristiwa sebelum kematian Gustaf Nabuasa kembali dibongkar. Salah satu nama yang disebut dalam keterangan keluarga adalah Yosep Nome, yang diduga menjadi pihak yang menyampaikan informasi mengenai adanya rencana pembunuhan terhadap Gustaf Nabuasa dan sejumlah orang lainnya.
Informasi tersebut, berdasarkan keterangan yang disampaikan kepada media, pertama kali diketahui pada Minggu, 15 Februari 2026, di penggilingan padi milik Apner Nabuasa, Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Malam sekitar pukul 21.00 WITA, Adi Yanto Beis disebut datang ke lokasi dan menyampaikan informasi kepada Apner Nabuasa serta sejumlah orang yang berada di tempat tersebut. Dalam keterangannya, Adi Yanto disebut membawa informasi bahwa ada rencana pembunuhan terhadap Gustaf Nabuasa, Apner Nabuasa, dan Charles Nabuasa, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa Bena.
Yang membuat informasi itu serius adalah penyebutan nama Gustaf Nabuasa secara khusus. Dalam cerita yang disampaikan Adi Yanto, disebut bahwa rencana tersebut akan lebih dahulu diarahkan kepada sosok yang disebut dengan istilah “Joker Merah”, yang merujuk kepada Gustaf Nabuasa, sementara target lainnya dianggap belakangan.
Nama Yosep Nome kemudian muncul sebagai pihak yang disebut-sebut menyampaikan informasi awal tersebut. Jika keterangan ini benar, maka informasi mengenai ancaman terhadap Gustaf bukan baru diketahui setelah korban meninggal, melainkan telah beredar jauh sebelum peristiwa kematian terjadi.
Apner Nabuasa, yang menerima informasi tersebut, kemudian disebut mengarahkan Adi Yanto Beis agar pada hari berikutnya mendatangi rumah Gustaf Nabuasa. Tujuannya untuk menyampaikan langsung informasi mengenai dugaan rencana pembunuhan tersebut kepada Gustaf.
Beberapa hari kemudian, tepatnya Sabtu, 21 Februari 2026, Apner Nabuasa kembali ke Bena untuk mengontrol sawah dan penggilingan padi miliknya. Di lokasi tersebut, Sole Nabuasa disebut menyampaikan bahwa Adi Yanto Beis telah secara langsung memberitahukan informasi mengenai dugaan rencana pembunuhan itu kepada Gustaf Nabuasa di apotek milik Gustaf.
Informasi tersebut, menurut keterangan yang diberikan, tidak berlangsung tanpa saksi. Saat penyampaian informasi di apotek, disebut terdapat sejumlah orang, antara lain Yunus Beis, Fendi Loppo, Je Lasboi, Sole Nabuasa, Esa Nabuasa, dan Safe Nabuasa.
Dengan demikian, terdapat rentang waktu sekitar satu bulan sebelum kematian Gustaf ketika informasi mengenai ancaman tersebut disebut sudah diketahui sejumlah pihak. Pertanyaan besarnya kemudian bukan hanya siapa yang melakukan kekerasan terhadap Gustaf, tetapi juga seberapa jauh informasi tentang ancaman itu sebenarnya telah diketahui sebelumnya dan bagaimana aparat meresponsnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













