Justru pada momen itulah, menurut keterangan keluarga, muncul teriakan yang kini menjadi salah satu bagian penting yang mereka minta ditelusuri penyidik.
Keluarga menyebut EB (istri JB) dan istri dari tersangka berada di lokasi ketika JB terjatuh. Keduanya, menurut rilis tersebut, kemudian berteriak berulang kali, “Bunuh dia, bunuh dia, bunuh dia.”
Teriakan itu menjadi pertanyaan besar bagi keluarga Nabuasa. Pasalnya, kalimat tersebut muncul di tengah situasi yang sedang memanas dan sebelum rangkaian peristiwa yang akhirnya menewaskan Gustaf Nabuasa.
Jublina Widiyanti Kase, S.H., selaku juru bicara keluarga, mempertanyakan motif di balik teriakan tersebut. “Ada apa dengan dua ibu ini?” demikian pertanyaan keluarga yang disampaikan dalam rilis kepada redaksi.
Bagi keluarga, teriakan tersebut tidak boleh dipandang sebagai bagian kecil dari keributan biasa. Mereka meminta penyidik menggali siapa yang meneriakkan kalimat tersebut, kepada siapa ditujukan, dalam konteks apa diteriakkan, serta apa yang terjadi sesudahnya.
Keluarga juga kembali meminta penyidik Polres TTS yang menangani perkara kematian Gustaf Nabuasa untuk mengurai seluruh rangkaian kejadian secara utuh. Mereka menilai setiap orang yang berada di lokasi dan setiap ucapan sebelum bentrokan harus diperiksa secara serius.
Permintaan itu menurut Widi semakin kuat karena keluarga menduga rentetan kejadian tersebut tidak berdiri sendiri. Menurut keluarga, terdapat dugaan adanya pihak tertentu yang berperan sebagai “sutradara” di balik rangkaian peristiwa yang berujung pada tewasnya Gustaf Nabuasa.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













