Mgr. Hans Monteiro: “Gereja ini Menyimpan Sejarah Rohani Perjalanan Panggilan Saya”
Mgr. Yohanes Hans Monteiro, dalam sambutannya, mengungkapkan rasa syukur atas rahmat tahbisan yang diterimanya.
“Dengan hati penuh syukur dan kerendahan hati pada hari yang penuh rahmat ini, saya berdiri di hadapan Anda sekalian sebagai seorang Uskup yang baru ditahbiskan, bukan oleh kehendak saya sendiri, melainkan oleh panggilan dan rahmat Allah melalui Gerejanya. Tahbisan episkopal bukan pertama-tama suatu kehormatan pribadi, melainkan sebuah pelayanan bagi Gereja,” ungkapnya mengawali sambutannya.
Menurut Mgr. Hans, dalam terang ajaran Lumen Gentium 21, tahbisan episkopal adalah kepenuhan sakramen tahbisan yang menempatkan seorang Uskup dalam kesinambungan para Rasul sebagai tanda kehadiran Kristus di tengah umat-Nya.
“Roh Kudus, Spiritus principalis, dicurahkan kepada saya supaya saya dapat mengurus umat. Saya tidak datang sebagai pemilik Gereja, melainkan sebagai pelayan persekutuan. Tahbisan ini menegaskan bahwa Kristus sendiri terus menyertai umatnya sejak benih iman ditaburkan oleh para Misionaris Dominikan, Jesuit, Serikat Sabda Allah, sampai umat sederhana melalui devosi kepada Tuan Ma,” ujarnya.
“Tahbisan ini berlangsung di Katedral Larantuka, tempat saya dipermandikan, tempat saya menerima komuni pertama, tempat saya menerima sakramen tobat pertama, tempat saya menerima sakramen krisma, tempat saya ditahbiskan menjadi imam,” ujar Mgr. Hans disambut tepuk tangan lebih dari 5000 orang umat yang memadati gereja dan halaman Katedral Reinha Rosari Larantuka.
“Sebagai anak Nagi, anak Kota Reinha, Gereja Katedral ini menyimpan sejarah rohani perjalanan panggilan saya,” ujar Mgr. Hans.
Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C., dalam sambutannya, mengungkapkan syukurnya atas tahbisan episkopal, sekaligus mengingatkan umat untuk tetap bersatu, sebagaimana dinyatakan dalam moto episkopal Mgr. Hans Monteiro.
“Terima kasih karena Gereja berkembang karena sehati sejiwa sampai sekarang. Kadang-kadang ada malam gelap, maka Gereja harus hati-hati. Terutama terhadap ancaman-ancaman yang bisa memecah belah. Gereja tidak akan hancur karena serangan dari luar. Yang harus diwaspadai serangan dari dalam. Moto pastoral luar biasa: unum corpus, unus spiritus, una spes, mengingatkan kita bahwa Gereja sungguh Gereja Katolik yang satu, kudus, dan apostolik. Tubuh itu satu, tetapi bermacam-macam. Seperti tenun di Flores Timur,” ungkap Mgr. Antonius.
Pada kesempatan yang sama, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, uskup emeritus Keuskupan Larantuka, mengajak umat Keuskupan Larantuka untuk bersatu di bawah kepemimpinan Mgr. Hans Monteiro.
Selain perwakilan Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Michael A. Pawolichz, serta Kardinal Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, para uskup dan perwakilan keuskupan dari berbagai keuskupan di Indonesia, turut hadir dalam misa tahbisan episkopal tersebut, Anggota DPR RI, Melchias Mekeng, Ketua DPRD NTT, Emi Nomleni, para Bupati / Wakil Bupati se daratan Flores, Kakanwil Kemenag Provinsi NTT, serta umat dari berbagai daerah di Indonesia.*
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe












