Hati-Hati Di Jalan, Jangan Lupa Pulang

Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260525 WA0062

Oleh : Anggalinus Piatu

Kupang,timorsavana.com ||Merantau bukan sekadar pergi meninggalkan rumah. Ia adalah perjalanan panjang yang dimulai dari keberanian kecil: melangkahkan kaki menjauh dari tempat yang selama ini terasa paling aman. Banyak orang melihat merantau hanya sebagai perpindahan tempat tinggal, mencari pekerjaan, atau melanjutkan pendidikan. Namun bagi mereka yang benar-benar menjalaninya, merantau adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan arti kehilangan, perjuangan, kesepian, harapan, dan kedewasaan.

Suatu pagi, seorang anak muda berdiri di depan rumah sederhana tempat ia dibesarkan. Udara masih dingin, embun belum sepenuhnya hilang dari dedaunan. Ibunya sibuk memasukkan beberapa pakaian terakhir ke dalam tas lusuh yang sudah dipakai bertahun-tahun. Ayahnya berdiri diam di teras, mencoba terlihat kuat meski matanya menyimpan banyak kekhawatiran. Tidak ada kata-kata besar pagi itu. Hanya pesan sederhana yang terus diulang:

“Hati-hati di jalan. Jangan lupa pulang.”

Kalimat itu terdengar biasa, tetapi justru menjadi kalimat yang paling sering terngiang saat seseorang mulai hidup jauh dari rumah.

Merantau selalu dimulai dengan harapan. Ada yang ingin mengubah nasib keluarga. Ada yang ingin mengejar pendidikan. Ada yang ingin membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Dan ada pula yang pergi karena keadaan memaksa mereka meninggalkan kampung halaman demi bertahan hidup.

Awalnya semuanya tampak menarik. Kota baru menawarkan cahaya, keramaian, dan mimpi-mimpi besar. Jalanan sibuk, gedung tinggi, kendaraan yang tidak pernah benar-benar berhenti, orang-orang asing yang berjalan cepat seolah waktu selalu mengejar mereka. Di tengah semua itu, seorang perantau belajar menjadi kecil di kota yang besar.

Hari-hari pertama sering kali dipenuhi semangat. Namun perlahan, realitas mulai menunjukkan wajah aslinya. Tidak mudah hidup sendiri. Tidak ada ibu yang mengingatkan makan. Tidak ada ayah yang diam-diam memperbaiki masalah. Tidak ada suara keluarga saat malam tiba. Semua harus dilakukan sendiri.

Baca Juga :  Penerbangan Langsung AirAsia dari Kuala Lumpur ke Labuan Bajo Dibuka, Potensi Ekonomi dan Pariwisata NTT Terangkat

Perantau belajar menghitung uang dengan hati-hati. Mereka tahu rasanya menahan lapar demi menghemat biaya. Mereka tahu bagaimana rasanya berjalan kaki jauh karena ongkos kendaraan terlalu mahal. Mereka mengerti arti tidur dengan pikiran penuh tagihan dan tanggung jawab.

Di kota rantau, tidak ada yang benar-benar peduli apakah seseorang sedang sedih atau bahagia. Semua orang sibuk bertahan dengan hidupnya masing-masing. Karena itu, seorang perantau sering kali belajar tersenyum meski hatinya lelah.

Ada malam-malam ketika rasa rindu datang tanpa permisi. Rindu pada masakan rumah. Rindu suara ibu di dapur. Rindu suasana sederhana yang dulu terasa biasa saja. Saat masih tinggal di rumah, banyak hal dianggap sepele. Namun ketika jauh, hal-hal kecil justru menjadi kenangan yang paling menyakitkan.

Kadang seorang perantau duduk sendiri di kamar sempit sambil melihat foto keluarga di layar ponsel. Ia tersenyum kecil, lalu diam cukup lama. Ada air mata yang tidak jadi jatuh karena ia sadar hidup harus tetap berjalan.

Merantau juga mengajarkan arti perjuangan yang sesungguhnya. Tidak semua usaha langsung berhasil. Ada lamaran kerja yang ditolak. Ada usaha yang gagal. Ada nilai yang mengecewakan. Ada kepercayaan yang dikhianati. Ada hari-hari ketika seseorang merasa ingin menyerah dan pulang saja.

Namun anehnya, justru di titik paling lelah itulah seorang perantau menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Ia mulai sadar bahwa hidup memang tidak selalu mudah, tetapi manusia diciptakan dengan kemampuan untuk bertahan.

  • Bagikan