Hati-Hati Di Jalan, Jangan Lupa Pulang

Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260525 WA0062

Pelan-pelan, perantau berubah menjadi lebih dewasa. Ia belajar bahwa uang diperoleh dengan kerja keras. Ia belajar menghargai waktu. Ia belajar memilih teman. Ia belajar bahwa tidak semua orang yang tersenyum memiliki niat baik. Ia juga belajar bahwa kebaikan kecil bisa sangat berarti di tanah asing.

Ada kebanggaan yang tidak bisa dijelaskan ketika seseorang akhirnya mampu berdiri sendiri. Ketika bisa mengirim uang pertama untuk orang tua. Ketika bisa membeli sesuatu dari hasil jerih payah sendiri. Ketika menyadari bahwa semua lelah ternyata tidak sia-sia.

Namun merantau bukan hanya tentang sukses. Banyak orang mengira perantau yang berhasil adalah mereka yang pulang membawa mobil baru, pakaian bagus, atau jabatan tinggi. Padahal keberhasilan seorang perantau sering kali tersembunyi dalam hal-hal sederhana: tetap bertahan, tidak menyerah, dan terus mencoba meski berkali-kali gagal.

Ada pula perantau yang pulang tanpa membawa kemewahan. Tetapi mereka pulang dengan pengalaman, kedewasaan, dan hati yang lebih kuat. Dan itu pun sebuah kemenangan.

Merantau mengubah cara seseorang memandang rumah. Rumah bukan lagi sekadar bangunan tempat tinggal, melainkan tempat di mana seseorang merasa diterima tanpa syarat. Tempat di mana lelah bisa beristirahat. Tempat di mana seseorang tidak perlu berpura-pura kuat.

Ketika seorang perantau akhirnya pulang setelah waktu yang panjang, ia sering menyadari bahwa banyak hal telah berubah. Orang tua mulai menua. Adik-adik tumbuh dewasa. Jalan-jalan kampung tampak lebih sempit dari ingatan masa kecil. Namun satu hal yang tidak berubah: rasa haru saat kembali.

Di situlah seorang perantau memahami bahwa sejauh apa pun langkah kaki pergi, hati selalu tahu jalan pulang.

Merantau memang melelahkan. Ada air mata yang disembunyikan, ada luka yang dipendam, dan ada kesepian yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun. Tetapi dari perjalanan itu lahir manusia-manusia tangguh yang belajar bertahan dalam kerasnya kehidupan.

Baca Juga :  Penerbangan Langsung AirAsia dari Kuala Lumpur ke Labuan Bajo Dibuka, Potensi Ekonomi dan Pariwisata NTT Terangkat

Karena pada akhirnya, merantau bukan hanya tentang mencari penghidupan. Merantau adalah perjalanan menemukan diri sendiri.

Satu pesan yang kembali terngiang di benak seorang perantau “Hati-hati di jalan. Jangan lupa pulang”. Kata-kata itu bukan sekedar bunyi semata, melainkan tersirat makna yang mendalam bahwa merantau dan pelarian itu berbeda. Merantau adalah membawa sebuah semoga yang harus di perjuangkan dan pelarian adalah manipulasi kenyataan yang sesaat saja, lalu kembali pada susah, jerih, letih dan peluh di sepanjang perjalanan hidup.

Kita berani meninggalkan rumah yang sunyi dan adem serta banyak Susana dan cinta di sana demi sebuah harapan. Merantau itu tidak mudah ada susah, ada senang, ada canda tawa dan ada sedih yang harus kita jalani sendiri. Hidup ini keras. Kamu tidak bisa mewakili dirimu di antara rintangan itu. Kamu yang harus melewatinya.

Satu kata untuk para perantau, “Kalau merantau mencari nasib dan mengubah nasib, pulanglah jadi orang yang berguna. Kalau merantau karena menempuh pendidikan, pulanglah membawa gelar sarjana dan selembar ijazah serta ilmu karena itu investasi untuk dirimu sendiri”

Seorang perantau harus kuat. Harus tabah. Harus berprinsip. Harus punya target. Jika tidak, maka sia-sialah semua.
Apapun yang terjadi dalam hidup selalu andalkan Tuhan karena Dialah jawaban dari semua kemustahilan dan ketidakmungkinan.*

  • Bagikan