Dikeroyok di Depan Polsek Amanuban Selatan, Polisi Diduga Diam

Reporter : Jack Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20251020 WA0014

“Saya dipukul, dibanting, punggung memar, tangan dan dahi luka,” kata Yolfni.

Vivi pun mengalami perlakuan serupa. “Saya sempat telepon keluarga minta tolong, tapi HP langsung direbut dan dibanting,” ucapnya. Keduanya kemudian dibawa paksa dengan mobil Avanza putih ke rumah Yudas Asbanu sebagai jaminan agar Arlon kembali.

Yolfni mengaku di sana ia sempat diancam akan dibunuh. “Ada satu orang keluar bawa parang, mau potong saya,” ujarnya sambil gemetar saat memberi keterangan di area parkir Polsek. Ia kemudian memohon agar persoalan diselesaikan di Polsek saja. “Awalnya ditolak, tapi akhirnya mereka setuju,” katanya.

Sesampainya di Polsek, Yolfni yang masih emosi melihat Kus Asbanu memukul istrinya sempat membalas satu pukulan. Namun aksi itu malah memicu pengeroyokan lanjutan, yang disebut terjadi kembali di depan aparat. “Polisi hanya lihat saja,” kata Yolfni.

Atas rekomendasi anggota yang sedang piket malam, Yolfni dan Vivi melakukan visum tanpa pendampingan polisi, sementara Yudas CS diantar resmi oleh petugas ke RSUD Soe. “Kami korban, tapi malah ditinggal,” ujarnya kesal.

Hana H. Selan, ibu kandung Holfni menuntut keadilan. “Sudah dua anak saya dikeroyok, tapi tidak ada kabar. Dulu anak saya dikeroyok juga, tidak ada tindak lanjut sampai meninggal. Sekarang lagi begini,” katanya menahan tangis.

Dengan suara bergetar, Hana memohon perhatian dari pihak berwenang. “Saya minta keadilan. Kalau bisa sampai Pak Kapolres, Pak Kapolda, bahkan Pak Presiden Prabowo dengar. Kami orang kecil, orang lemah. Tolong bantu kami.”

Ia mengaku berada di lokasi saat pengeroyokan di halaman Polsek terjadi. “Saya lihat langsung dengan mata kepala. Yudas Asbanu, Kus Asbanu, Lot Asbanu, Nolus Asbanu, dan Leo Asbanu — mereka semua pukul anak saya di depan saya dan empat polisi.”

Baca Juga :  Kejati NTT: Langganan Penghargaan, Bukti Komitmen dalam Pengelolaan Keuangan yang Transparan

Hana juga mengaku sempat terdorong dan hampir jatuh saat berusaha menolong. “Untung anak mantu saya tahan. Kalau tidak, saya pasti jatuh dan ditendang,” ujarnya lirih.

Kasus ini membuka kembali luka lama bagi keluarga Selan. Menurut Hana, pada 2020 salah satu anaknya juga menjadi korban pengeroyokan yang berujung kematian pada 2022. Pelakunya saat itu disebut BM CS, namun kasusnya tak pernah tuntas.

Keluarga kini mendesak agar Kapolres TTS segera turun tangan, karena menilai Polsek Amanuban Selatan gagal melindungi korban dan terkesan membiarkan tindakan kekerasan di depan kantor sendiri.

Tanggapan resmi dari Kapolsek Amanuban Selatan akan ditayangkan dalam pemberitaan selanjutnya.

  • Bagikan