Kasus pengeroyokan brutal di Amanuban Selatan, TTS, gegerkan publik — korban mengaku dipukul di depan Polsek tanpa tindakan polisi. Keluarga desak Kapolres hingga Presiden Prabowo turun tangan.
Panite, TTS||timorsavana.com — Kasus dugaan pengeroyokan terhadap Arlon Selan dan Yolfni Taek di depan Polsek Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, memantik kemarahan publik. Korban dan keluarganya menuding aparat kepolisian tidak bertindak saat insiden terjadi di depan mata.
Peristiwa bermula pada 16 Oktober 2025. Arlon Selan mengendarai mobil pick-up bersama Yolfni Taek dan istrinya, Vivi Tipnoni, dalam perjalanan pulang dari Nununamat. Sebelum tiba di rumah, mereka sempat memuat sebuah lemari di salah satu rumah mebel di wilayah Hauteas yang tak jauh dari gereja.
Saat itu hujan gerimis membuat jarak pandang terbatas. Dari arah berlawanan datang Yudas Asbanu mengendarai motor tanpa lampu.
“Saya tidak bisa lihat dia. Saat lewat, dia langsung maki. Saya pikir dia teman,” tutur Arlon. Tak lama, Yudas berbalik arah dan menantangnya berkelahi di atas pick-up.
Arlon menyebut perkelahian sempat terjadi. Melihat situasi memburuk, Yolfni dan Vivi turun dari mobil untuk melerai. Yudas dipisahkan oleh Yolfni, sementara Vivi menarik Arlon kembali ke kendaraan. Namun pertikaian tak berhenti di situ. Yudas kemudian menitip pesan kepada pengendara lain agar menyampaikan kepada keluarganya bahwa dia telah dipukul.
Tak lama kemudian, massa dalam jumlah banyak berdatangan ke lokasi kejadian di Desa Bena, tempat peristiwa pertama terjadi. Merasa terancam, Yolfni menyuruh Arlon menyelamatkan mobil.
“Saya langsung bawa mobil jalan,” kata Arlon. Ia menuju rumah saudaranya, mengisi daya ponsel, lalu menghubungi Maci Selan, Ketua ARAKSI TTS, yang menyarankan agar ia segera melapor ke Polsek Amanuban Selatan untuk mencari perlindungan.
Namun sesampainya di Polsek, situasi justru semakin panas. Arlon mendapati keluarga Yudas sudah lebih dahulu membuat laporan. Begitu ia hendak masuk pintu Polsek, Yudas keluar sambil menudingnya, “Lu yang tadi bapukuk deng Beto to!”
“Saya jawab: ho, Beta su. Dia langsung tawar lagi: ‘mari ko kita bapukul su’. Saya bilang sabar dulu. Tapi pas bilang sabar, seorang bapak paruh baya langsung pukul saya,” kisah Arlon.
Menurutnya, pengeroyokan kemudian terjadi di halaman Polsek dan disaksikan aparat. “Ada empat polisi lihat tapi langsung balik belakang saja,” ungkapnya.
Usai dipukul, Arlon sempat mendatangi petugas sambil bertanya, “Bos, ke mana ni, ko Beta kena pukul di sini?” Namun petugas hanya menjawab datar: “Sapa yang pukul?” — seolah tidak tahu apa yang baru saja terjadi. “Padahal mereka lihat dengan mata kepala sendiri,” tambah Arlon.
Alih-alih dilindungi, Arlon malah ditahan di sel hingga pukul 2 pagi tanpa pemeriksaan. Ia kemudian disuruh pulang tanpa sempat divisum. “Malam itu saya tidak sempat divisum karena surat dari Polsek hanya untuk Yudas CS,” ujarnya.
Sementara itu, dua penumpang dalam mobil, Yolfni Taek dan istrinya Vivi Tipnoni, juga menjadi korban kekerasan massa di TKP Bena.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













