Ketahanan Energi NTT Disorot, Potensi Besar EBT Belum Tergarap Maksimal

Reporter : Lia Kiki Editor: Redaksi
  • Bagikan
20260520 102552

Kupang,timorsavana.com — The Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) menggelar Workshop Ketahanan Energi dan Reformasi Subsidi pada Rabu (20/5/2026) di Hotel Aston Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pemateri dari berbagai institusi dan diikuti mahasiswa serta awak media.

Lima narasumber yang hadir dalam kegiatan ini di antaranya Massita Ayu Cindy selaku Koordinator Departemen Penelitian Cluster Ketahanan Energi The Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Ahmad Wardhana sebagai Peneliti Senior Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada, Aldi Martino Hutagalung dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta Kepala Dinas ESDM Provinsi NTT, Viktorius Manek.

Peserta workshop berasal dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang, mahasiswa Politeknik Negeri Kupang, dan sejumlah awak media.

Dalam workshop tersebut dibahas mengenai perkembangan konsep ketahanan energi yang terus mengalami evolusi seiring perubahan geopolitik global. Kondisi geopolitik dunia dinilai memberikan dampak signifikan terhadap fluktuasi harga minyak bumi dan kebijakan subsidi energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kepala Dinas ESDM Provinsi NTT, Viktorius Manek, dalam pemaparannya menjelaskan tantangan serta dampak negatif subsidi energi terhadap kondisi fiskal daerah, terutama akibat pengaruh harga minyak dunia.

Ia juga memaparkan potensi besar energi baru terbarukan (EBT) di NTT. Berdasarkan data yang disampaikan, total potensi energi di NTT mencapai 381.586 MW, dengan potensi terbesar berasal dari energi surya sebesar 369.500 MW.

Sementara itu, total pemanfaatan energi baru terbarukan di NTT saat ini baru mencapai 51,71 MW. Pemerintah juga terus mendorong program cofiring biomassa pada sejumlah PLTU di daerah tersebut, seperti PLTU Ropa Ende berkapasitas 14 MW dan PLTU Bolok berkapasitas 34 MW.

  • Bagikan