Topik : 

Kembali ke Akar: Dua Hari Marthen Natonis Bangun Jalan di Kampung Halaman

Reporter : Jack
  • Bagikan
20250720 154326

Material bangunan menumpuk di sisi jalan. Bukan proyek tender. Ini murni swadaya: batu pecah dari warga, pasir dan semen ditanggung Marthen. Tak ada upah, hanya semangat dan pengorbanan.

Makanan disiapkan ibu-ibu desa. Sirih pinang menyambut tamu, kopi dan ubi kayu mengisi tenaga. Ini bukan suguhan mewah, tapi simbol penerimaan yang tulus.

Gotong royong dimulai. Ada yang mengangkut pasir, mencampur semen, atau memecah batu. Semuanya bergerak dalam irama kerja yang harmonis. Hari itu, 10 meter jalan rabat selesai dibangun.

Pekerjaan difokuskan di titik yang paling parah. Bagi mereka, ini bukan sekadar beton. Ini adalah akses, harapan, dan persiapan menyambut musim hujan tanpa ketakutan terisolasi.

Malamnya, mereka bermalam di rumah kakak Marthen. Tak ada daging ayam atau pesta. Ikan kering dan telur goreng terasa seperti hidangan raja karena disantap bersama keluarga dalam suasana hangat.

Listrik masih jadi impian. Sebelum ke Boti, Marthen sempat menemui pihak PLN untuk membicarakan perluasan jaringan. Harapan itu kini perlahan menjadi nyata, seperti mimpi yang mulai mendapat bentuk.

Telepon genggam harus diisi ulang dengan genset tetangga. Tapi dari antrian itulah, reuni kecil terjadi. Teman-teman masa kecil muncul, obrolan mengalir seperti air, menertawakan masa lalu yang penuh kenangan.

Esoknya, sebelum warga tiba dari gereja, Marthen sudah berada di lokasi. Ia tak datang sebagai atasan, tapi sebagai rekan kerja. Saat warga berdatangan, suasana kembali hangat. Moleng tak tersedia, tapi tangan-tangan warga cukup untuk menyelesaikan pekerjaan.

Dari kerja ini, Marthen melihat satu hal yang tak bisa diganti dengan uang: semangat gotong royong. Ia menyadari, kampung halaman bukan hanya tempat asal, tapi juga tempat panggilan untuk kembali dan membangun.

Baca Juga :  PT Bumi Indah secara Sukarela membantu Perbaikan Jalan di sekitar wilayah Kodi

Dari Boti, Marthen menyampaikan pesan: pulanglah, bantu kampung halaman. Jangan tunggu jadi pejabat untuk membangun. Bangunlah sekarang, karena cinta pada tanah kelahiran tak butuh jabatan.

  • Bagikan