SMP Negeri 2 Kota Soe sukses menekan angka kekerasan dan perundungan di sekolah dengan pendekatan kolaboratif dan edukatif. Simak strategi lengkapnya di sini.
Kekerasan di lingkungan sekolah dan kenakalan remaja masih menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan. Fenomena seperti perundungan (bullying), pemalakan, hingga pergaulan bebas, sering kali muncul sebagai bagian dari dinamika sosial di kalangan pelajar. Dalam menyikapi hal tersebut, sekolah dituntut untuk tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang aman bagi siswa.
SMP Negeri 2 Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, berhasil menekan angka kekerasan di lingkungan sekolah berkat kerja sama lintas sektor dan pendekatan edukatif yang berkelanjutan.
Koordinator Bimbingan dan Konseling (BK) sekolah, Verthy Nepa, S.Pd, mengungkapkan bahwa satuan tugas (satgas) penanganan kekerasan di sekolah sudah terbentuk dan berjalan sejak tahun 2014.
“Satgas ini menjadi garda depan kami dalam menangani berbagai kasus kekerasan. Cara penanganannya kami lakukan secara kolaboratif,” ujar Verthy.
Pada awalnya, jenis kekerasan yang paling sering terjadi adalah tindakan perundungan dan pemalakan atau yang kerap disebut “pajak” oleh siswa kelas VIII dan IX terhadap siswa kelas VII.
Namun, Verthy menegaskan bahwa kondisi tersebut kini telah berhasil diatasi dan tidak lagi menjadi masalah dominan di sekolah.
Dua tahun terakhir, kasus perundungan antartingkatan kelas masih sempat muncul, namun sekolah langsung melakukan langkah preventif melalui layanan klasikal yang digelar oleh guru-guru BK.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













