Edukasi antiperundungan ini diberikan secara rutin dan sudah menunjukkan hasil yang signifikan dalam mengurangi praktik kekerasan.
Selain layanan klasikal, pihak sekolah juga memanfaatkan media visual seperti poster edukatif tentang bahaya perundungan dan pergaulan bebas, yang dipasang di ruang kelas dan area strategis lainnya.
Pemasangan poster tersebut dikoordinasikan bersama wali kelas agar informasi pencegahan kekerasan mudah diakses oleh para siswa.
Menurut pengamatan tim BK, tren kekerasan di lingkungan sekolah mengalami penurunan. Faktor pemicu seperti masa pubertas tetap dimaklumi, tetapi tidak dijadikan alasan untuk pembiaran.
Skema penanganan masalah di SMP Negeri 2 Kota Soe dimulai dari wali kelas, dilanjutkan ke bagian kesiswaan jika tidak terselesaikan, dan jika diperlukan baru diteruskan ke bagian BK atau bahkan kepala sekolah.
Dalam menjalankan program ini, sekolah bekerja sama dengan berbagai pihak seperti DP3AP2KB Kabupaten TTS, Polres TTS, dan Yayasan Sanggar Suara Perempuan, serta berkomitmen untuk mencapai target nol kekerasan dengan memulai sosialisasi pada masa penerimaan siswa baru pertengahan Juni mendatang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













