Bupati mengakui bahwa pendidikan di TTS masih menghadapi tantangan, termasuk anak-anak yang mengalami kesulitan membaca dan persoalan putus sekolah. Karena itu, pemerintah membutuhkan dukungan berbagai pihak agar upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat berjalan lebih efektif.
“Pendidikan tidak akan maju jika hanya dibebankan kepada sekolah. Kita butuh ekosistem, yaitu lingkungan di mana semua orang menjadi guru dan semua tempat menjadi sekolah,” kata Eduard.
Ia menjelaskan, Kampung Pendidikan GMIT diharapkan membangun ekosistem belajar dengan menempatkan rumah sebagai sekolah pertama, gereja sebagai pusat pembelajaran dan pembinaan karakter, serta masyarakat sebagai lingkungan yang ikut mendampingi dan mengawasi perkembangan anak.
Eduard juga menekankan pentingnya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan iman dan nilai-nilai Kristiani. Menurutnya, pendidikan harus menghasilkan anak-anak yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, dan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya Timor.
Ia meminta Dinas Pendidikan dan perangkat daerah terkait untuk membangun kolaborasi dengan GMIT dalam pengembangan program pendidikan. Kepada para orang tua, ia juga mengajak agar menyediakan waktu mendampingi anak belajar di rumah, termasuk membiasakan membaca bersama selama 15 menit setiap malam.
Ketua Yapenkris Tois Neno Pdt. Nelson M. Miem bersama pengelola pendidikan GMIT di kawasan tersebut diharapkan dapat melanjutkan inisiatif ini melalui program yang terukur. Pemerintah Kabupaten TTS juga menyatakan dukungannya terhadap kolaborasi yang melibatkan perangkat daerah dan tenaga penyuluh sesuai bidang masing-masing.
Kampung Pendidikan GMIT Kuatnana mengusung tema “Membangun Generasi Emas yang Berkarakter Kristus dan Berdampak bagi Bangsa.” Program ini dirancang sebagai kawasan percontohan untuk memperkuat ekosistem belajar masyarakat dengan empat pilar utama, yakni keluarga, gereja, pemerintah, dan masyarakat.
Secara historis, pendidikan GMIT di Tetaf telah dimulai sejak 1 Agustus 1947 melalui pendirian SD GMIT Tetaf. Kehadiran sekolah tersebut merupakan gagasan para tokoh adat atau amaf setempat, yakni Bell, Faot, Betty, dan Nubatonis, yang memandang pendidikan sebagai jalan untuk membawa perubahan bagi masyarakat.
Dari satu sekolah, pendidikan GMIT di kawasan Kuatnana kemudian berkembang menjadi enam lembaga, yakni SD GMIT Tetaf, SMP Kristen 1 Amanuban Barat yang sebelumnya bernama SMP Nekmese, SMA Kristen Manek To, SMTK Peiter Middelkoop, SMPTK Peiter Middelkoop, dan TK Tunas Muda Tetaf. Keenam sekolah tersebut dikelola Yapenkris Tois Neno di atas lahan sekitar tujuh hektare yang merupakan persembahan para tokoh setempat.
Dalam pelaksanaannya, Kampung Pendidikan GMIT dirancang untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam mendampingi aktivitas belajar, mendeteksi risiko anak putus sekolah, mendukung wajib belajar 12 tahun, serta menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak. Program ini juga diarahkan untuk memperkuat akses terhadap fasilitas belajar, literasi, numerasi, teknologi, olahraga, dan keterampilan kewirausahaan.
Peluncuran ditandai dengan kegiatan ibadah dan seremoni, disertai berbagai aktivitas pendidikan dan pengembangan bakat. Kegiatan tersebut mencakup lomba mewarnai untuk anak TK/PAUD, lomba membaca ayat Alkitab dalam bahasa Indonesia untuk siswa SD, lomba bercerita tentang tokoh Alkitab dalam bahasa Inggris untuk siswa SMP, lomba pidato bahasa Inggris untuk siswa SMA/SMK, olimpiade matematika, serta lomba inovasi media pembelajaran bagi guru.
Selain itu, diselenggarakan pertandingan futsal bagi siswa SD dan SMP sebagai bagian dari pembinaan minat dan bakat. Panitia juga memperkenalkan site plan dan master plan Kampung Pendidikan GMIT sebagai gambaran pengembangan kawasan tersebut ke depan.
Melalui peluncuran ini, GMIT dan Yapenkris Tois Neno diharapkan dapat memperkuat kerja sama dengan pemerintah dan masyarakat untuk memastikan Kampung Pendidikan Kuatnana tidak hanya menjadi simbol, tetapi berkembang menjadi lingkungan belajar yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi generasi muda di TTS.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













