
Marthelda ingat masa-masa itu dengan haru. Saat Dr. Chris masuk TK, ia menjaga si bungsu yang masih bayi. Jika ada yang sakit, terutama si bungsu, Marthelda selalu menjadi orang pertama yang dipanggil. Ia tidak hanya seorang pengasuh, tetapi juga penjaga setiap tawa, tangis, dan sakit anak-anak itu.
Hidup di bawah satu atap keluarga Theo mengajarkan Marthelda tentang kedisiplinan dan kasih sayang. Anak-anak diajarkan oleh orang tua mereka untuk hidup tertib: belajar jam lima sore hingga tujuh malam, kemudian dilanjutkan setelah makan malam hingga pukul sepuluh. Namun di tengah jadwal yang padat, mereka tetap memiliki waktu untuk bermain—dan Marthelda selalu menjadi bagian dari kebahagiaan itu.
Makanan menjadi bagian lain dari kenangan. Marthelda tahu betul apa yang disukai Dr. Chris: terong balik kecap, ikan asam manis, dan daging makao. “Apa saja yang beta masak, pasti dia makan,” katanya dengan bangga. Baginya, melihat Dr. Chris dan saudara-saudaranya menikmati makanannya adalah kebahagiaan sederhana yang berarti.
Namun, waktu memisahkan mereka. Ketika Dr. Chris harus melanjutkan sekolah ke Malang, hati Marthelda terasa kosong. “Kami sudah seperti saudara,” katanya. Kehidupan rumah yang sebelumnya ramai menjadi sepi. Meski begitu, rasa sayangnya tak pernah luntur. “Beta rindu suasana rumah yang ramai seperti dulu,” tuturnya pelan.
Bagi Marthelda, satu hal yang ia kagumi dari Dr. Chris adalah kerendahan hatinya. “Dia tidak pernah merasa diri anak bos atau bos,” katanya. Dalam keluarga itu, tidak ada sekat antara majikan dan pekerja. Hubungan mereka adalah tentang cinta dan penghormatan, yang membuat Marthelda semakin mencintai anak-anak yang diasuhnya.
Foto-foto perjalanan mereka ke Dili, Soe, atau Atambua adalah bukti bahwa kasih seorang pengasuh bisa menjembatani perbedaan apa pun. “Saya mungkin bukan bagian dari keluarga ini secara darah,” katanya, “tetapi hati saya selalu ada untuk mereka.”
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe












