Ia mengajak masyarakat agar tidak malu menunjukkan identitas budaya daerah, antara lain dengan mengenakan kain tenun, menampilkan tarian adat, serta menggunakan bahasa daerah. Menurutnya, tradisi harus tetap hidup dalam keseharian masyarakat dan tidak hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu.
Pemerintah Kabupaten TTS, lanjutnya, akan terus memberikan ruang dan dukungan bagi pelestarian budaya lokal. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, komunitas adat, seniman, dan generasi muda.
Eduard juga menyoroti potensi budaya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Menurutnya, tenun ikat TTS tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penghidupan bagi para penenun dan menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain tenun ikat, tarian tradisional, musik daerah, dan kampung adat dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Jika dikelola secara berkelanjutan, kekayaan budaya tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan pariwisata daerah.
Bupati turut mengingatkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai adat seperti natoni, sopan santun, gotong royong, dan saling menghormati. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi modal sosial untuk menjaga kerukunan dan memperkuat kehidupan bermasyarakat.
Secara khusus, Eduard meminta generasi muda mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan budaya TTS. Ia berharap anak-anak muda mampu mengikuti perkembangan teknologi dan modernisasi tanpa meninggalkan akar tradisi yang membentuk identitas mereka.
“Saya tidak ingin budaya kita hanya tinggal di museum dan di buku sejarah. Saya ingin budaya kita hidup di tangan kalian, di gerakan tarian kalian dan di hati kalian,” ujarnya.
Ia juga mengajak generasi muda menjadi pribadi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi tetap berpegang pada nilai budaya daerah. Menurutnya, pelestarian tradisi membutuhkan keterlibatan aktif generasi penerus agar warisan leluhur tetap dikenal dan dipraktikkan.
Pada awal rangkaian kegiatan, SMA Unggul Garuda tampil dengan membawakan tarian kolosal dan monolog bertajuk “Garuda Nusantara”. Penampilan tersebut menjadi bagian dari ruang ekspresi seni yang disediakan dalam Festival Budaya Daerah TTS 2026.
Festival ini juga diarahkan untuk mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif, memperkuat persatuan, serta menghidupkan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi mendorong pelestarian budaya secara berkelanjutan.
Melalui Festival Budaya Daerah yang berlangsung hingga 29 Oktober 2026, Pemerintah Kabupaten TTS berharap kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal semakin kuat. Pelestarian tradisi diharapkan menjadi tanggung jawab bersama agar identitas Atoin Meto tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













