Penanganan dilakukan sejak masa remaja, kehamilan, kelahiran hingga anak berusia lima tahun. Program mencakup pemberian tablet tambah darah, pendampingan ibu hamil, dukungan menyusui, penanganan balita bermasalah gizi, pemberian makanan bergizi, serta edukasi keluarga.
Pemerintah juga mengembangkan Program Orang Tua Asuh dan meningkatkan kapasitas kader Posyandu melalui pelatihan 25 kompetensi dasar Integrasi Layanan Primer.
Kasus Malaria dan DBD Menurun
Melki juga menyampaikan perkembangan pengendalian penyakit menular di NTT.
Kasus malaria turun dari sekitar 8.900 kasus pada 2024 menjadi 4.300 kasus pada 2025. Hingga pertengahan 2026, tercatat sekitar 1.200 kasus, sementara 11 kabupaten/kota telah memperoleh sertifikasi eliminasi malaria.
Kasus demam berdarah juga mengalami penurunan. Dari hampir 4.000 kasus dengan 29 kematian pada 2024, menjadi sekitar 2.100 kasus dengan delapan kematian pada 2025. Hingga Juni 2026, tercatat 918 kasus dengan dua kematian.
Untuk rabies, pemerintah memperkuat vaksinasi, penyediaan serum antirabies, pusat pelayanan rabies di Puskesmas dan rumah sakit, serta pendekatan One Health.
Angka kematian akibat gigitan hewan penular rabies turun dari 46 jiwa pada 2024 menjadi 30 jiwa pada 2025 dan delapan jiwa hingga pertengahan 2026.
Perkuat Pelayanan Kesehatan
Dari sisi infrastruktur dan pelayanan, pada 2026 NTT memiliki 70 rumah sakit. Sebanyak 64 rumah sakit telah terakreditasi.
NTT juga memiliki 446 Puskesmas dengan 440 di antaranya telah terakreditasi. Pemerintah terus mengembangkan telemedisin untuk memperluas akses pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah yang sulit dijangkau.
Perlindungan anak juga menjadi bagian dari pembangunan kesehatan masyarakat. Pemerintah memperkuat Kabupaten/Kota Layak Anak, Forum Anak, Sekolah dan Rumah Ibadah Ramah Anak, PAUD Holistik Integratif, serta perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi, perdagangan orang, dan ancaman digital.
UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak menangani 216 kasus kekerasan terhadap anak pada 2024 dan meningkat menjadi 258 kasus pada 2025.
Pendidikan Jadi Kunci Daya Saing
Melki kemudian memaparkan Dasa Cita Keenam, yakni “Sekolah Vokasi Unggulan Berbasis Potensi Daerah.”
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing NTT.
Pemerintah Provinsi NTT memperluas akses dan mutu pendidikan, memperkuat pendidikan vokasi berbasis potensi daerah, serta menyiapkan generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
Pada 2025, Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK mencapai 100,51 persen dan Angka Partisipasi Murni (APM) sebesar 70,18 persen.
Rata-rata Lama Sekolah meningkat dari 8,02 tahun pada 2024 menjadi 8,22 tahun pada 2025. Sementara Harapan Lama Sekolah meningkat dari 13,23 tahun menjadi 13,34 tahun.
Dari sisi mutu pendidikan, terdapat 218 sekolah berakreditasi A, 432 sekolah berakreditasi B, dan 364 sekolah berakreditasi C.
Makna Kemerdekaan Harus Dirasakan Masyarakat
Mengakhiri pidatonya, Melki mengaitkan pembangunan NTT dengan cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Menurutnya, tema HUT ke-81 Kemerdekaan RI, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, merupakan penegasan kembali terhadap cita-cita konstitusional yang diwariskan sejak 1945.
Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, kata Melki, pembangunan harus terus diukur dari sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Bagi Nusa Tenggara Timur, jawabannya harus diwujudkan dalam kehidupan nyata masyarakat. Ketika ketahanan pangan menguat, konektivitas antarpulau membaik, pendidikan dan kesehatan semakin berkualitas, petani, nelayan, peternak, dan UMKM semakin berdaya, serta investasi dan lapangan kerja tumbuh, di situlah makna Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur hadir di NTT,” tegasnya.
Melki menegaskan pembangunan NTT ke depan membutuhkan kerja bersama seluruh elemen, mulai dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat, perguruan tinggi, lembaga keagamaan, hingga insan pers.
Dengan kolaborasi tersebut, pemerintah optimistis estafet pembangunan yang telah dirintis para pemimpin terdahulu dapat terus dilanjutkan untuk membawa NTT menuju masa depan yang lebih maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













