Jack Benu memilih membawa persoalan tersebut ke jalur kelembagaan. Ia merasa tindakan yang dialaminya telah merendahkan dirinya di hadapan orang lain dan menyebut adanya ancaman dalam insiden tersebut.
Rencana laporan itu diarahkan kepada Badan Kehormatan DPRD TTS dan badan etik partai politik. Melalui jalur tersebut, Jack ingin persoalan yang melibatkan dirinya dan Hendrikus diproses sesuai mekanisme etik yang berlaku.
Meski demikian, rencana laporan tersebut belum berarti pemeriksaan etik telah dimulai. Proses di BK DPRD baru dapat dipastikan setelah terdapat laporan resmi dan tindak lanjut sesuai ketentuan lembaga.
Ketua BK DPRD: Belum Ada Laporan Resmi
TimorSavana.com mengonfirmasi perkembangan rencana laporan itu kepada Ketua Badan Kehormatan DPRD TTS, Sefrit Nau, pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Melalui pesan WhatsApp, Sefrit menyatakan belum ada laporan resmi yang masuk ke BK terkait insiden tersebut. Ia mengatakan akan menginformasikan kembali apabila laporan resmi telah diterima.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa, hingga Kamis, rencana Jack Benu untuk membawa persoalan tersebut ke ranah etik belum tercatat sebagai laporan resmi di Badan Kehormatan DPRD TTS.
Polemik Cetak Sawah Menjadi Latar Perselisihan
Perselisihan antara Jack Benu dan Hendrikus Babys berkaitan dengan polemik proyek cetak sawah di wilayah selatan TTS. Hendrikus sebelumnya mempersoalkan dampak proyek tersebut terhadap lingkungan dan tanah ulayat.
Ia menilai pelaksanaan proyek cetak sawah telah merusak ribuan pohon asam yang tumbuh di atas tanah ulayat. Persoalan itu kemudian mencuat dalam pembahasan di lingkungan DPRD TTS.
Berdasarkan pantauan TimorSavana.com, polemik proyek tersebut telah diangkat dalam tiga sidang paripurna berturut-turut. Isu itu terus menjadi perhatian di tengah pembahasan agenda pemerintahan daerah, termasuk Perubahan APBD 2026.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













