DH Ungkap Kronologi Hubungan dengan Plt Camat Mollo Utara

Reporter : Jack Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20261102 WA0026

Dalam peristiwa tersebut, SN ditanya mengenai seorang perempuan berkulit putih, bertubuh tinggi dan besar, serta dua anak yang mendampinginya saat serah terima jabatan di Kapan. SN disebut menjawab bahwa mereka adalah keluarga. Ia juga mengaku tidak memiliki istri dan telah berpisah selama satu tahun enam bulan ketika masih menjabat sebagai Sekcam Nunbena.

Penggerebekan itu turut disaksikan sejumlah orang, termasuk seorang pendeta, keluarga besar, dan warga yang berada di sekitar rumah. Ketika kembali ditanya mengenai istri dan anak-anaknya, SN disebut tetap menyatakan sudah berpisah. Ayah DH kemudian meminta agar SN kembali bersama orang tuanya untuk membicarakan hubungan tersebut secara kekeluargaan. SN menjawab akan mengusahakannya, tetapi menurut DH, hal itu tidak pernah terealisasi.

DH mengaku pernah menanyakan kembali kepastian kedatangan orang tua SN. Namun, SN justru menyebut nama Om Nolus Nitbani sebagai orang yang nantinya menjadi juru bicara untuk urusan mereka. Sementara itu, DH mengatakan dirinya tidak pernah dibawa secara resmi menghadap keluarga SN. Ia hanya pernah diperkenalkan kepada seorang temannya, Frid Olin, sebagai saudara ketika berkunjung ke rumahnya di Nonohonis.

Setelah penggerebekan, DH mengaku merasa malu tinggal di Bati sehingga pindah ke Ajaobaki. Namun, SN tetap mengikuti dan melanjutkan hubungan dengannya. Bahkan, ketika DH sempat diam-diam pergi ke Amanuban Timur, SN menyusul dan membawanya kembali ke kampung. “Din, saya tidak bisa jauh-jauh lu, kita pulang,” kata DH menirukan ucapan SN.

Selama tinggal di Ajaobaki, menurut DH, SN bahkan menginap selama berminggu-minggu. Hubungan mereka juga diketahui masyarakat setempat. Karena khawatir terjadi penggerebekan atau persoalan baru, adik DH meminta agar keduanya melaporkan hubungan tersebut kepada Ketua RW, Daud Nomeni.

Baca Juga :  Tiga Tukang Bangunan Polisikan CV. Ave Maria Niki-Niki

Di tengah hubungan itu, muncul pula persoalan mengenai truk yang sebelumnya hendak dijual. DH mengaku SN menawarkan bantuan untuk menyelesaikan tunggakan kendaraan tersebut di bank. SN menyebut dirinya hanya ingin membantu dan mengamankan kendaraan itu. Setelah menghubungi ayah DH, SN menyerahkan uang Rp4 juta kepada ayahnya.

DH mengatakan, ketika menerima gaji ke-13, SN mengajak ayahnya ke bank untuk menyetor uang Rp4 juta. SN juga disebut menyampaikan kepada pihak bank bahwa dirinya mengambil alih kendaraan dan akan melanjutkan pembayaran setiap bulan. Keluarga kemudian menyepakati bahwa pembayaran oleh SN dianggap sebagai pembelian truk tersebut. Kendaraan itu selanjutnya dibawa ke Niki-Niki tanpa DH dan keluarganya ikut serta.

DH mengaku hubungan mereka terus berlangsung hingga pertengahan Desember 2024. Ia kemudian pindah dan menyewa kamar kos di Kota Soe pada akhir Desember tahun yang sama. Meski demikian, SN disebut masih sering berkunjung dan menjadikan kamar kos tersebut seperti rumah sendiri. Bahkan, menurut DH, hingga kini masih terdapat sepasang sepatu dan sandal milik SN di tempat itu.

Dalam perjalanan hubungan, DH mengaku SN pernah membawanya ke Desa Kokfeu dan memperkenalkannya sebagai calon istri pejabat. SN juga disebut menjanjikan akan membangun rumah untuk DH serta meminta agar dirinya bersabar karena sedang mempersiapkan masa depan hubungan mereka.

Namun, persoalan status pernikahan SN tetap menjadi pertanyaan DH. Setiap kali ia kembali menyinggung isu bahwa SN masih memiliki istri, SN disebut meminta dirinya tidak mendengarkan perkataan orang lain. Bahkan, menurut DH, SN pernah mengambil Alkitab, berlutut, dan memegang tangannya sambil meminta agar dirinya percaya.

Memasuki akhir 2025, DH mulai merasakan perubahan pada kondisi tubuhnya. Saat SN datang dari Kapan dan menjemputnya, DH kemudian membeli alat tes kehamilan. Hasil pemeriksaan menunjukkan dirinya positif hamil. DH mengaku langsung menyampaikan hasil tersebut kepada SN, tetapi yang bersangkutan hanya melihat hasil tes dan terdiam sebelum meminta izin pergi mengambil laptop.

Baca Juga :  Di Balik Tugas sebagai Legislator, David Boimau Tekuni Usaha Ternak Babi

Setelah mengetahui kehamilan tersebut, menurut DH, intensitas kunjungan SN mulai berkurang. Namun, SN masih sempat menyampaikan bahwa dirinya sedang mempersiapkan kebutuhan untuk anak yang dikandung DH, termasuk biaya persalinan. SN juga disebut menegaskan bahwa dirinya tetap bertanggung jawab dan tidak pernah menyangkal anak tersebut.

DH mengaku sempat meminta SN mendampinginya selama kehamilan, terutama karena dirinya masih harus bekerja. Beberapa kali SN memang menjemputnya menggunakan kendaraan dinas bernomor polisi DH 1010. Namun, ketika mendekati persalinan, respons SN terhadap pesan yang dikirim DH hanya berupa emotikon hati dan pelukan.

Kini, DH mengaku telah membulatkan keputusan untuk tidak melanjutkan hubungan tersebut. Ia merasa kepercayaan yang dibangunnya sejak awal telah dikhianati karena menurutnya SN tidak terbuka mengenai status perkawinan dan tidak menepati sejumlah janji yang pernah disampaikan.

“Keputusan saya sudah bulat. Saya tidak mau lanjut dengan dia karena merasa dipermainkan. Dia sudah tidak jujur sejak awal,” tegas DH.

  • Bagikan