Dari Latihan ke Panggung, Siswa SD GMIT Soe II Bawakan Telsain

Reporter : Jack Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20261024 WA0003

 

Menurutnya, keterlibatan siswa dalam festival budaya memiliki arti lebih luas daripada persaingan antarsekolah. Kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk memahami identitas budaya mereka melalui kesenian yang dipelajari dan dipentaskan.

 

“Ini hal yang sangat bagus bagi kami, orang tua dan komite, karena menciptakan nilai-nilai budaya bagi anak-anak. Biar anak-anak tahu bahwa melalui budaya yang mereka tampilkan dalam Telsain ini, mereka bisa membanggakan diri sebagai orang Timor,” kata Gio.

 

Telsain sebagai Pintu Masuk Mengenal Budaya Daerah

 

Gio berharap sekolah terus memberi ruang bagi tarian tradisional dalam kegiatan pendidikan. Ia menyebut tarian Maekat, Okomama, Telsain, dan tarian daerah lainnya dapat digunakan sebagai sarana untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya lokal.

 

Dukungan itu, menurut dia, perlu berjalan secara berkelanjutan agar pengenalan budaya tidak berhenti pada satu festival atau satu kali pementasan. Anak-anak perlu memiliki kesempatan untuk mempelajari, mempraktikkan, dan memperkenalkan kesenian daerah kepada orang lain.

 

Anita juga berharap festival budaya terus diselenggarakan sebagai wadah bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan seni sekaligus berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas. Menurut dia, kegiatan semacam ini penting karena masih ada orang yang belum mengenal tarian Telsain.

 

“Bagi kami, juara atau tidak juara, melalui pentas seni seperti ini kami ingin menanamkan kecintaan anak-anak terhadap budaya,” kata Anita.

 

Ia mengatakan, partisipasi SD GMIT Soe II dalam pementasan tarian Telsain, sejauh yang diketahuinya, baru berlangsung dua kali. Pada keikutsertaan tahun lalu, sekolah tersebut meraih juara pertama untuk kategori sekolah dasar.

 

Pemandu Rombongan Merasa Bangga

 

Salah seorang siswa yang ikut dalam pementasan, Grace Tahun, dipercaya menjadi pemandu rombongan pada penampilan tahun ini. Ia mengatakan sebelumnya juga mengikuti pementasan Telsain pada tahun lalu, tetapi belum bertugas sebagai pemandu.

Baca Juga :  Rawat Tradisi Lokal, Pemkab TTS Gelar Festival Budaya Selama 10 Hari

 

“Secara pribadi saya bangga. Hari ini kami tampil lagi dan saya dipercaya menjadi pemandu,” kata Grace.

 

Ia mengatakan para siswa mendapat bimbingan dari Anita selama masa persiapan. Latihan dilakukan pada waktu istirahat kedua hingga jam pulang sekolah.

 

Grace mengaku sudah mengenal dan mempraktikkan tarian Telsain sejak 2025, ketika diperkenalkan oleh seseorang guru bernama Ida Liu. Saat pertama mempelajarinya, ia sempat mengalami kesulitan, tetapi mulai menyesuaikan diri setelah sekitar satu minggu.

Selain Telsain, Grace juga mengenal tarian Okomama. Pengalaman mengikuti pementasan, menurutnya, menjadi kesempatan untuk mempelajari lebih banyak tarian tradisional sekaligus terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian budaya.

  • Bagikan