“Pada waktu itu semua sudah bergeser ke rumah sakit. Dan dari situ saya informasikan ke grup masing-masing kelas agar anak yang sudah ada indikasi keracunan dibawa ke RSUD Soe agar mendapatkan perawatan lebih lanjut,” terang Yermia.
Hingga pukul 21.00 WITA, data yang dihimpun dari empat posko penanganan kasus menyebutkan sebanyak 195 siswa SDI Soe telah mengalami keracunan dan sedang ditangani oleh tim medis RSUD Soe serta sejumlah tenaga kesehatan dari Puskesmas terdekat.
Meski situasi telah terkendali, Yermia menegaskan pihaknya akan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, terutama pada aspek dapur dan penyedia makanan.
“Harapan kami kalau dapat MBG ini harus kita evaluasi. Dari situ kita akan membuatkan satu rekomendasi apakah mau lanjut makan atau stop,” tegasnya.
Menurutnya, langkah evaluasi tidak hanya untuk mencari solusi jangka pendek, tetapi juga memastikan keamanan dan kesehatan peserta didik di masa depan.
“Tapi harapan kami kita evaluasi. Dan berikut untuk masalah dapur, kalau dapat yang berwenang melakukan pemeriksaan kalau dapat dan dari situ bisa kita tahu sebab-sebab keracunan itu,” ujarnya menambahkan.
Ia bahkan menyinggung potensi adanya kesalahan pada pengelolaan bahan makanan oleh penyedia jasa yang terlibat dalam program MBG.
“Apakah dari dapur atau teman-teman penyedia ini yang membuat gejolak,” tegasnya lagi di hadapan sejumlah wartawan.
Pantauan di RSUD Soe menunjukkan ratusan siswa terus mendapat penanganan medis secara bergiliran. Meski demikian, pihak rumah sakit memastikan tidak terjadi kepadatan ekstrem dan pelayanan tetap berjalan lancar.
Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua, yang mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan dan memastikanpenyebab pasti keracunan dapat diungkap.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe











