Topik : 

Warga Noebana Bongkar Fakta Baru : Kepala Desa Diduga Terlibat

Reporter : Jack
  • Bagikan
IMG 20250711 112428
Kepala Desa Noebana, Noh Ninef

Ia menambahkan bahwa selama ini pembangunan di Desa Noebana banyak terbengkalai. Menurutnya, kepala desa lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan pribadi dibanding menjalankan tugas pemerintahan. “Beliau jarang berkantor. Kami lihat sendiri, lebih banyak urus perempuan daripada urus desa,” tambahnya.

Warga juga menyinggung bahwa hampir semua perempuan yang pernah hidup bersama dengan kepala desa pada akhirnya meninggalkan rumah karena diduga mengalami kekerasan. “Setiap ada istri, pasti ada kasus. Kami dengar banyak yang lari karena dipukul,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, sang kepala desa juga dituding kerap mengonsumsi minuman keras hingga mabuk, yang kemudian memicu kekacauan di lingkungan desa. “Kalau soal mabuk, jangan tanya. Sudah biasa. Mabuk, buat huru-hara, bahkan suka keras kepala dan tidak mau dengar nasihat orang tua di kampung,” jelasnya.

Baca Juga :  Suami Sah Minta Kepala Desa Noebana Diproses Hukum atas Dugaan Perzinahan

Situasi ini membuat warga merasa kampung mereka telah kehilangan wibawa karena ulah kepala desa. “Kepala desa itu seharusnya jadi teladan, bukan sumber masalah. Tapi kenyataannya, kami yang jadi malu. Nama kampung rusak karena kelakuan satu orang,” tegas pemuda tersebut.

Menurutnya, banyak warga, termasuk tokoh masyarakat, merasa takut untuk memberikan masukan kepada kepala desa karena dikenal tempramental dan anti kritik. “Orang tua pun segan untuk bicara. Kepala desa tidak bisa dikasih tahu, kepala batu,” katanya.

Warga berharap agar pemerintah daerah segera mengambil sikap terhadap kondisi ini. Mereka menuntut evaluasi terhadap kepemimpinan Noh Ninef dan meminta agar aparat penegak hukum menindaklanjuti dugaan pelanggaran yang terjadi.

“Kalau soal hukum, biarlah itu jadi urusan polisi. Tapi sebagai warga, kami tidak terima kalau kepala desa kami jadi sumber masalah terus. Pemerintah harus turun tangan,” pungkasnya.

Pengakuan dari warga, kerabat, dan orang dekat mulai bermunculan sejalan dan memperkuat dugaan bahwa kasus ini bukan hanya sekadar persoalan moral pribadi, tetapi sudah berdampak langsung pada tata kelola desa, ketertiban umum, serta keteladanan kepemimpinan di tingkat lokal.

  • Bagikan