Kasus tragis menimpa R (15) di Amanatun Utara. Diperkosa di bawah ancaman setelah ditawari tumpangan. Simak kronologi dan tuntutan keadilan keluarga.
Amanatun Utara, Timorsavana.com – Gerakan perlindungan anak kembali tercoreng oleh aksi bejat yang merobek masa depan seorang siswi kelas X SMA di Desa Fotilo, Kecamatan Amanatun Utara. RAS (15), remaja yang kini harus memikul beban trauma seumur hidup akibat tindakan predator yang bersembunyi di balik kedok bantuan tumpangan motor.
Peristiwa memilukan ini bermula pada pagi hari tanggal 16, saat korban bersama rekannya berjalan kaki pulang dari sebuah acara kedukaan. Di tengah perjalanan, Anus (nama sapaan) muncul dengan sepeda motornya, menawarkan tumpangan yang semula dianggap sebagai tindakan baik antarwarga desa. Tanpa curiga, kedua remaja tersebut mengiyakan untuk dibonceng bertiga menuju rumah mereka.
Namun, niat jahat pelaku mulai terendus ketika seorang rekannya menyusul dari belakang. Dengan alasan teknis yang dibuat-buat—mengklaim ban motornya kekurangan angin—pelaku meminta temannya untuk membonceng rekan korban. Strategi ini jelas dilakukan untuk mengisolasi Rini agar pelaku bisa melancarkan aksi bejatnya tanpa gangguan saksi.
Begitu korban tinggal sendirian di boncengannya, predator ini langsung menunjukkan tabiat aslinya. “Waktu le na, in nasaeba au anha ma in naen nasaitan in kawan,” ungkap ibu korban dengan nada pedih saat ditemui wartawan. Pernyataan dalam bahasa daerah tersebut menggambarkan betapa pelaku langsung memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, meninggalkan pemotor lainnya jauh di belakang.
Dalam kecepatan yang membahayakan nyawa itu, Anus mulai melakukan pelecehan verbal dan fisik. Ia memaksa korban untuk memasukkan tangan ke dalam celananya guna menyentuh alat vitalnya. Korban yang ketakutan dan tertekan berada di atas motor yang melaju kencang, hanya bisa terdiam seribu bahasa menghadapi kegilaan tersebut.
Ibu korban menirukan rintihan anaknya saat melapor, “Mutam ho nima he mubae au uitku.” Kalimat yang berarti “masukkan tangan ke dalam celana untuk memainkan kemaluanku” itu menjadi bukti awal betapa bejatnya permintaan pelaku. Penolakan diam-diam dari korban ternyata justru memicu kemarahan dan ancaman yang lebih intimidatif dari sang pelaku.
Melihat korban tetap bergeming, pelaku mengancam akan memacu motor lebih kencang lagi jika korban tidak mau memeluknya. Ancaman nyawa di atas aspal ini digunakan sebagai senjata untuk menaklukkan mental seorang anak di bawah umur. Karena korban terus menolak, pelaku akhirnya membelokkan arah kendaraan menuju area pemakaman yang sepi.
Di lokasi yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan terakhir yang tenang, RAS justru menghadapi mimpi buruk terburuk dalam hidupnya. Begitu motor berhenti, sebelum korban sempat turun untuk melarikan diri, pelaku dengan beringas menarik tubuh mungilnya. Korban diseret paksa dan ditempelkan pada sebuah pohon lontar yang menjadi saksi bisu kekejaman tersebut.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













