Dalam pemilihan tersebut, Paslon 01 Juanita dan Nando mengusung visi membangun kepribadian yang baik, menjadi teladan serta menjadikan OSIS sebagai wadah untuk menampung aspirasi, ide dan harapan siswa tanpa membeda-bedakan. Program yang ditawarkan di antaranya SMK Peduli serta SMK Digital dan Literasi untuk meningkatkan minat baca.
Paslon 02 Rafky dan Manda menawarkan peningkatan kedisiplinan serta ruang aspirasi digital bagi warga sekolah. Program unggulan mereka antara lain pembentukan tim patroli keamanan sekolah yang melibatkan OSIS, PMR dan Pramuka, class meeting setiap akhir semester, penguatan kegiatan ekstrakurikuler serta forum aspirasi digital.
Sementara Paslon 03 Jolyn dan Maeschel membawa visi dan misi dengan semangat “Dengarkan Aspirasi, Wujudkan Aksi”.
Paslon 04 Brayen dan Almira mengusung gagasan menjadikan OSIS sebagai penggerak perubahan nyata, berani, berprinsip dan berakar pada iman, sekaligus memperjuangkan aspirasi warga sekolah untuk mendorong perubahan di SMK Negeri 1 Kupang.
Adapun Paslon 05 Citra dan Princes menawarkan pendekatan persuasif, inovatif dan inklusif. Sejumlah program mereka mencakup forum komunikasi bulanan, program sahabat sekolah dan patroli preventif, ruang pelaporan dan pendampingan, sinergi ekstrakurikuler dan jurusan, literasi digital, hingga penerapan budaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan pengelolaan bank sampah.
Proses pemungutan suara dilakukan menggunakan aplikasi I-Voting dan dibuka selama sekitar 30 menit. Pemilih mengakses aplikasi dengan memindai barcode yang telah disediakan. Setelah masuk, pemilih dapat melihat daftar pasangan calon dan menentukan pilihannya.
Siswa menggunakan username yang telah dibagikan melalui kartu pemilihan, sementara guru menggunakan identitas yang telah disiapkan dalam sistem.
Franky menyebut jumlah pemilih yang diproyeksikan menggunakan hak suara sekitar 1.600 orang yang terdiri dari siswa dan guru. Namun, jumlah suara yang masuk diperkirakan dapat lebih rendah karena sejumlah faktor, seperti siswa yang sakit, tidak hadir atau tidak membawa telepon seluler.
Wakil Komite SMK Negeri 1 Kupang, Martinus Kamaleng, S.Pd., mengatakan pemilihan langsung berbasis digital tersebut merupakan yang pertama kali dilaksanakan di sekolah itu.
“Kalau tahun-tahun yang lalu kami menggunakan cara perwakilan, tidak pilih langsung seperti ini. Tapi kali ini kami mencoba melakukan pemilihan langsung seperti yang dilakukan oleh negara kita,” kata Martinus.
Menurut Martinus, sistem I-Voting tersebut dibuat sendiri oleh tim yang dipercaya pihak sekolah. Karena baru pertama kali diterapkan, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan berikutnya.
“Sistem dibuat sendiri dari sekolah karena ada tim yang dipercaya untuk membuat sistem ini. Kadang-kadang masih ada kendala, tetapi diharapkan pada periode berikutnya tidak ada kendala lagi,” ujarnya.
Ia menilai pemilihan langsung bukan sekadar menentukan Ketua dan Wakil Ketua OSIS, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran demokrasi bagi siswa.
Melalui mekanisme tersebut, siswa diperkenalkan secara langsung pada tahapan demokrasi, mulai dari penjaringan kandidat, penyusunan visi dan misi, kampanye, pendidikan kepemimpinan hingga menggunakan hak suara untuk menentukan pemimpin organisasi siswa di sekolah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













