
Ekosistem dan Ekspansi
Di Soe, pertemuannya dengan seorang petani milenial dan tokoh komunitas rohani—membuka jalan baru. Kolaborasi mereka menciptakan rantai pasok yang solid antara petani cabai dan produsen sambal. Lewat pertemuan-pertemuan kecil, ekosistem bisnis terbentuk dan membesar.
Kini, Asett Sambal telah menembus pasar nasional—Jakarta, Bali, Sumatra, Kalimantan, hingga Labuan Bajo. Bahkan telah dikirim ke, Timor Leste sudah lebih dari 100 pcs. Dukungan pun mengalir bak harapan Yaya. Pelaku UMKM kenamaan seperti Fransiscus Go untuk mendorong produk ini semakin meluas.
Dari Air Mata ke Marketplace
Produk ini bukan hanya soal rasa. Ini tentang keteguhan. Tentang bagaimana seseorang bisa bangkit dari puing-puing luka dan menciptakan sesuatu yang berdampak. Asett Sambal adalah kisah tentang harapan, dibungkus dalam botol sambal.
Bukan dari lingkaran terdekat. Bukan dari teman lama. Usaha ini tumbuh dari orang-orang yang Yaya temui secara acak. Dari keberanian bercerita, menyapa, dan mempercayai bahwa setiap sambal yang ia bawa punya cerita yang layak untuk disebarkan.
“Menghormati orang tua, selalu ada jalan berkatnya,”katanya.
Tentang Label
Semua icon pada label kemasan Asett Sambal menunjukkan kepribadian Yaya dan pengalaman yang dilaluinya. Juru masak, sambal, warna merah tua, pagar adalah elemen yang tak terpisahkan dari produk yang kini beredar dan dirasakan masyarakat luas. Namun ada yang unik dari labelnya yakni tiga jari sang juru masak diacungkan ke depan yang melambangkan tiga swapraja di Timor Tengah Selatan yakni Banam, Onam dan Oenam.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe












