Proyek APBD I 2026 Mulai Hotmix 600 Meter Jalan Kefamenanu–Eban

Editor: Redaksi
  • Bagikan
img 20260923 154623 716 1536x691 1

TTU,timorsavana.com || Kondisi jalan provinsi yang menghubungkan Kota Kefamenanu menuju Eban, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menjadi perhatian masyarakat. Kerusakan terlihat mulai sekitar kilometer 4 dari Kota Kefamenanu, tepatnya di ujung jembatan menuju Eban yang terhubung dengan kawasan jalan Sabuk Merah. Sejumlah titik badan jalan terpantau mengalami kerusakan cukup parah.

 

Lubang dan permukaan jalan yang rusak membuat kendaraan roda dua maupun roda empat harus mengurangi kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika melintasi bagian jalan yang menanjak. Pantauan di lapangan menunjukkan kerusakan tidak hanya berada pada satu titik. Di sepanjang ruas Kefamenanu–Eban masih ditemukan sejumlah bagian jalan yang mengalami kerusakan dan berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan. Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika memasuki musim hujan. Pada sejumlah titik tanjakan, permukaan jalan yang telah rusak dapat menyulitkan kendaraan, khususnya sepeda motor.

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mulai melakukan penanganan pada salah satu segmen melalui paket Penanganan Long Segment Ruas Jalan Lemon (Bts. Kab. TTS–Kefamenanu). Penanganan yang dikerjakan berada di wilayah Desa Haulasi kecamatan miomafo barat,Kabupaten TTU. Berdasarkan data proyek yang diperoleh, pekerjaan tersebut menggunakan sumber dana APBD 1 Provinsi NTT Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp2.982.811.000. Paket pekerjaan tersebut memiliki nomor kontrak 600.2.10.2/22/IX/SP/PUPR.BM.05.01/2026, dengan tanggal kontrak 2 September 2026 yang dikerjakan sekitar tanggal 19 dan atau 20 September. Pelaksanaan pekerjaan memiliki waktu kontrak selama 110 hari kalender. Paket tersebut dikerjakan oleh PT Surya Raya Timor sebagai kontraktor pelaksana, sedangkan pengawasan teknis dilakukan oleh CV Archi Tehnik Consultant.

 

Penanganan tahun ini mencakup sekitar 600 meter yang terbagi dalam dua segmen. Awak media menemukan salah satu Pelaksana lapangan proyek, Braitlhy Devid, mengatakan pekerjaan saat ini masih berada pada tahap awal. “Untuk sementara kita selesai clearing. Tahap kedua ini kita melakukan persiapan untuk pemasangan mortar. Setelah selesai, baru kita mulai penyiapan timbunan pilihan,” jelas Braithy saat ditemui di lokasi pekerjaan pada Rabu, (23/9). Menurutnya, masing-masing segmen memiliki panjang sekitar 300 meter lebih dan 250 meter. “Satu segmen sekitar 300 meter lebih dan satu segmen sekitar 250 meter,” katanya. Ia menjelaskan, lokasi yang ditangani merupakan salah satu bagian ruas yang dinilai membutuhkan penanganan. “Karena di sini yang paling rusak dari yang rusak,” ujarnya.

Baca Juga :  Ketahanan Energi NTT Disorot, Potensi Besar EBT Belum Tergarap Maksimal

 

Namun, kondisi tersebut bukan berarti seluruh titik kerusakan di sepanjang Kefamenanu menuju Eban telah tertangani. Sejumlah bagian lain masih membutuhkan penanganan lanjutan seperti beberapa ruas jalan tanjakan yang sulit di jangkau pengendara ketika menghadapi musim hujan . Medan Menanjak, Hotmix Dipilih untuk Penanganan Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam pekerjaan ini adalah kondisi medan yang memiliki sejumlah bagian menanjak. Menurut Braitlhy, konstruksi yang digunakan pada segmen tersebut direncanakan menggunakan hotmix, bukan sekadar lapisan penetrasi.

 

“Kalau lapen di area yang curam begini, sama saja, karena kendaraan dan alat berat sering lewat,” katanya. “Ini jalur poros menuju Sabuk Merah. Kalau menggunakan lapisan penetrasi, sudah pasti umurnya tidak panjang. Kalau hotmix, umurnya lebih panjang,” lanjutnya. Pernyataan tersebut merupakan pertimbangan teknis dari pelaksana di lapangan. Secara teknis, jenis perkerasan dan ketebalan lapisan jalan tetap harus mengikuti desain, spesifikasi kontrak, kondisi tanah dasar, beban lalu lintas, drainase, serta hasil pengujian mutu. Direktorat Jenderal Bina Marga sendiri dalam Spesifikasi Umum 2025 untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan mengatur persyaratan teknis pekerjaan campuran beraspal, termasuk pengendalian kepadatan hasil pemadatan.

 

Karena itu, keberhasilan hotmix tidak hanya ditentukan oleh jenis aspal yang digunakan, tetapi juga oleh kesiapan lapisan di bawahnya, kualitas campuran, temperatur saat penghamparan, ketebalan, pemadatan, serta pengendalian mutu. Bahu Jalan dan Drainase Jadi Bagian Penting Selain badan jalan, pekerjaan juga mencakup penanganan bahu jalan dan sistem pengaliran air. Braitlhy menjelaskan bahwa bahu jalan diperkuat karena sebagian lokasi berada pada medan yang cukup curam. “Penanganan tahun ini memang di daerah yang sedikit curam, makanya kita tambahkan dengan rabat bahu jalan supaya bisa sedikit lebih luas,” jelasnya. Sementara untuk drainase, pihak pelaksana mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Kuota Sapi TTS Diduga Jadi Ladang Uang: Zetho dan Roni Membantah, Pengusaha Bersaksi

 

Menurut Braithy, terdapat lokasi yang tidak memungkinkan dibuat cross drain karena tidak memiliki outlet yang memadai. “Di sini tidak bisa dipasang cross drain karena tidak ada outlet-nya,” jelasnya. Karena sisi kiri dan kanan jalan merupakan kawasan permukiman warga, pihak pelaksana kemudian menyiapkan saluran mortar untuk mengarahkan aliran air. “Karena ini permukiman kiri-kanan badan jalan, jadi kita kerjakan saluran mortar ini untuk mengalihkan air ke jembatan,” katanya. Penanganan drainase menjadi penting karena air merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat kerusakan perkerasan apabila tidak diarahkan dan dikendalikan dengan baik. Regulasi Kementerian PUPR mengenai pemeliharaan dan penilikan jalan jugamencakup perencanaan, survei, pemrograman, pembiayaan, perencanaan teknis, pelaksanaan, pengawasan, pemantauan, evaluasi, serta pelaporan pemeliharaan jalan nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. (JDIH PU) Secara umum, pekerjaan perkerasan jalan beraspal tidak berhenti pada penghamparan hotmix. Sebelum aspal digelar, kondisi lapisan dasar harus disiapkan sesuai desain teknis. Tahap awal dimulai dengan mobilisasi alat dan persiapan lapangan. Alat yang dibutuhkan dapat meliputi excavator, grader, truk pengangkut material, asphalt finisher, tandem roller, pneumatic tired roller, dan peralatan pendukung lainnya sesuai kebutuhan pekerjaan.

Sumber: Porosnttnews.com
  • Bagikan