“Dari seratus orang, mungkin hanya lima atau enam yang berpikir hanya untuk meramaikan. Rata-rata mereka berpikir berlomba itu sampai finis dan menang, itulah yang memotivasi mereka,” jelas Anggota Komisi IV DPRD TTS tersebut.
Atas dasar kondisi memprihatinkan tersebut, Yoram mendesak adanya evaluasi total dan akuntabel terhadap penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menuntut panitia pelaksana untuk bertanggung jawab penuh atas para peserta yang mengalami cedera atau luka selama kegiatan.
Kritik pedas juga dilontarkan terkait fasilitas bagi peserta dibandingkan dengan panitia. Yoram menyoroti ketimpangan di mana panitia bisa menikmati konsumsi dengan layak, sementara anak-anak yang menjadi kontributor utama kegiatan justru ditelantarkan.
“Panitia makan dan minum enak, sementara anak-anak bawa pulang luka, lapar, dan haus. Padahal kontribusi anak-anak ini sangat besar dalam mensukseskan acara tersebut,” sindirnya.
Lebih lanjut, Yoram menyebut penyelenggaraan lomba ini sebagai sebuah “lelucon” yang justru menyusahkan anak-anak. Ia bahkan berkelakar bahwa panitia tersebut lebih baik diurus oleh anak-anak daripada mereka yang bertugas mengurus anak-anak namun gagal.
Terkait aspek transparansi, Yoram mengaku sedang memantau penggunaan anggaran yang telah terkumpul untuk kegiatan ini. Ia menunggu hingga akhir kegiatan untuk melihat apakah tujuan utama dari *event* tersebut benar-benar tercapai atau tidak.
“Saya awalnya memang tidak mau bicara soal uang yang terkumpul, tapi saya masih tunggu ending-nya. Apakah tujuan utamanya tercapai atau hanya sekadar menghabiskan anggaran,” tambahnya.
Sebagai tokoh yang memiliki latar belakang pendidikan dan kini duduk di kursi legislatif, Yoram Nakamnanu berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah Kabupaten TTS agar tidak lagi ceroboh dalam menggelar kegiatan yang melibatkan anak-anak di masa mendat.*
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













