Sementara itu, Koordinator BBH Oelbubuk, Melki Banoet, menjelaskan bahwa target PAD tahun 2026 sebesar Rp132,5 juta. Namun hingga pertengahan Juli, realisasi baru mencapai sekitar Rp6,2 juta.
Ia menambahkan, pada tahun 2025 target PAD sebesar Rp112 juta hampir tercapai. Hanya saja, sekitar 1.000 pohon jeruk yang belum terjual membuat target tersebut tidak dapat terpenuhi sepenuhnya.
“Target PAD tahun lalu Rp112 juta hampir tercapai, namun masih ada sekitar 1.000 pohon jeruk yang belum terjual,” kata Melki.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi IV DPRD NTT, Patrianus Lali Wolo, menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan BBH Oelbubuk melalui alokasi anggaran pada APBD Murni Tahun 2027.
Ia menyebutkan beberapa kebutuhan prioritas, seperti pembangunan rest area, penataan kawasan, peningkatan sarana perkantoran, serta penambahan sumber daya manusia.
“Kami mengusulkan pengembangan rest area dan penambahan SDM. Saat ini hanya delapan orang, sehingga kami merekomendasikan penambahan sepuluh orang agar lahan yang ada dapat dikelola lebih produktif dan mampu meningkatkan PAD. Penataan kawasan dan pembenahan sarana perkantoran akan kami dorong melalui APBD Murni Tahun 2027,” tegas Patrianus.
Di akhir kunjungan, Melki Banoet menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada anggota DPRD Provinsi NTT yang telah meluangkan waktu mengunjungi BBH Oelbubuk serta memberikan perhatian terhadap pengembangan balai tersebut.
Menurutnya, meskipun BBH Oelbubuk masih menghadapi keterbatasan anggaran, pihaknya terus berupaya melakukan berbagai inovasi dan membangun kerja sama dengan berbagai pihak demi menjadikan balai tersebut lebih maju dan produktif.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian DPRD Provinsi NTT. Walaupun anggaran kami terbatas, kami tetap berinovasi dan membangun kerja sama untuk membawa BBH Oelbubuk ke arah yang lebih baik. Kami berharap dukungan DPRD agar berbagai usulan penataan dan pengembangan dapat diwujudkan,” pungkas Melki.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













