Yohanis Naibisi, pria sederhana yang akrab disapa Om Anis, memulai perjalanan hidupnya sebagai sopir pribadi keluarga Theo Widodo pada tahun 1995. Saat itu, dia dengan penuh keyakinan menawarkan jasa kepada Theo Widodo, seorang pria yang dikenalnya lewat proyek pembangunan di Kota Kupang. “Saya datang minta kerja di dia punya bapa karena dulu tahun 1993 saya sudah kenal dengan pak Theo,” kenangnya. Sejak itu, Anis diberi tanggung jawab untuk mengantar dan menjemput Christian Widodo, putra keluarga tersebut, ke SD Don Bosco III, di mana Chris duduk di kelas empat. Tugas itu membawanya lebih dekat pada keluarga dan menciptakan kisah-kisah yang tak terlupakan.
Bagi Anis, mengantar Chris kecil bukan sekadar pekerjaan. Anak itu, meski baru berusia sepuluh tahun, punya rasa ingin tahu yang luar biasa. “Chris itu kapala batu,” cerita Anis sambil tertawa mengenang. Setiap kali mereka keluar dari garasi, Chris memperhatikan gerakan tangan dan kaki Anis di balik kemudi. Tak lama, rasa penasarannya berubah menjadi tekad untuk belajar mengemudi. Dengan cerdik, Chris mulai “merayu” Anis, memberinya uang jajan tambahan—kadang Rp20.000, kadang Rp50.000—dengan alasan untuk membeli makanan. Uang itu, ternyata, berasal dari tabungan jajan Chris, lengkap dengan instruksi rahasia agar Anis tidak memberitahu orang tuanya.
Tekanan kecil dari Chris akhirnya berhasil. Anis mulai mengajarinya mengemudi, meski dengan cara yang tak biasa. “Karena dia masih kecil, kakinya belum bisa injak pedal. Jadi saya pangku dia. Rem, kopling, dan gas saya yang atur, dia yang pegang stir,” jelas Anis. Mereka berlatih diam-diam, jauh dari pengawasan sang ayah. Bahkan, dalam satu insiden lucu, saat Anis mendadak tak bisa menemaninya, Chris yang kecewa mengempeskan semua ban depan mobil sebagai bentuk protes. Meski keras kepala, Chris kecil menunjukkan semangat belajar yang luar biasa, membuat Anis semakin menyayangi anak itu.
Namun, hidup tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1999, ketika gejolak sosial melanda Kota Kupang, Anis memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Kehidupan membawanya pada perjalanan panjang sebagai sopir toko bangunan, pengangkut semen, hingga sopir ekspedisi tambang batubara di Kalimantan. Namun, setelah bertahun-tahun, kesehatan memaksanya pulang. Malaria menyerang tubuhnya, membuatnya kembali ke Kefamenanu, tempat ia terus bekerja sebagai sopir, keluar-masuk pekerjaan baru demi menyambung hidup.
Pada tahun 2023, takdir mempertemukan Anis kembali dengan keluarga Theo Widodo. Setelah hampir dua dekade berpisah, ia kembali bekerja untuk keluarga itu. Suatu hari, dr. Christian Widodo, kini seorang dokter yang sukses, memperkenalkan Anis kepada istrinya dengan penuh kebanggaan. “Ini saya punya sopir dulu,” katanya. Sebagai tanda penghormatan, Chris memberikan uang sebesar Rp250.000—sebuah simbol kecil dari hubungan mendalam yang mereka bangun di masa lalu.
Di mata Anis, Chris adalah sosok yang kuat, tegas, dan penuh semangat. “Dia itu kalau ada yang salah, dia tegur. Orangnya baik dan ramah, tapi kalau soal kerja, dia keras. Intinya jujur saja, pasti sukses,” kata Anis dengan bangga. Hubungan mereka lebih dari sekadar antara majikan dan karyawan. Anis merasa Chris kecil telah tumbuh menjadi pria yang mewujudkan nilai-nilai yang diajarkan oleh ayahnya.
Meski waktu telah berlalu, kenangan-kenangan itu tetap hidup di hati Anis. Dari latihan mengemudi diam-diam hingga ban yang dikempeskan, semuanya menjadi bagian dari cerita hidup yang penuh warna. Bagi Anis, Chris bukan hanya mantan majikan kecilnya, tetapi juga cerminan betapa hubungan sederhana dapat membawa dampak besar dalam hidup seseorang. “Pak Chris itu orangnya fisik kuat, tapi hatinya lebih kuat lagi,” tutup Anis dengan senyum kecil, bangga akan perjalanan hidup yang pernah mereka lalui bersama.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe












