Nusa Dua – Penjabat Gubernur NTT, Ayodhia G. L. Kalake, SH, MDC menjadi Narasumber pada diskusi panel bertajuk Indonesian Pavilion “Synergy in Green Infrastructure Initiative: Sustainable Financing within Water for Humans and Nature” pada rangkaian kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) World Water Forum ke – 10 yang bertempat di Taman Japun Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC) Nusa Dua, Bali pada Rabu (22/5).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ini membahas program Kerjasama Pembangunan Indonesia dan Jerman yaitu program Green Infrastructure Initiative (GII) atau Prakarsa Infrastruktur Hijau.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Nani Hendiarti dalam membuka kegiatan ini menyampaikan program GII merupakan program kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jerman dalam mendukung upaya Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca secara berkelanjutan.
“Program berfokus pada infrastruktur hijau di Indonesia dalam tiga sektor tematik yaitu penyediaan air, pengelolaan air limbah dan pengelolaan sampah,” Jelasnya.
Sedangkan, Ambassador of the Federal Republic of Germany to Indonesia, Ina Lepel, mengungkapkan program GII yang dijalankan antara Pemerintah Indonesia dan Jerman ini akan dibangun berdasarkan pengelolaan infrastruktur untuk mendukung ketersediaan air bagi masyarakat.

Pj. Gubernur Ayodhia dalam awal paparannya menyampaikan gambaran umum Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari 609 pulau dengan populasi 5,7 juta orang. Selanjutnya, Pj. Gubernur Ayodhia menyebutkan Provinsi Nusa Tenggara Timur masuk dalam kategori iklim semi-arid dimana rata-rata musim hujan hanya selama 3 hingga 4 bulan pertahun. Rata-rata curah hujan adalah 1.523 mm/tahun dengan Kabupaten Lembata menjadi daerah dengan curah hujan terendah (616mm/tahun) dan Manggarai sebagai Kabupaten dengan curah hujan tertinggi (4,060mm/tahun).
“Air memiliki peranan yang penting di Provinsi Nusa Tenggara Timur, selain sebagai kebutuhan sehari-hari juga bermanfaat dalam berbagai sektor seperti pertanian, peternakan, perikanan, dan industri (pariwisata). Namun, persentase akses kebutuhan air bersih di NTT saat ini masih berada pada urutan ke 4 terendah dari 34 Provinsi di Indonesia sesuai data dari Kementerian Kesehatan tahun 2022,” ungkapnya.
Menurut Pj. Gubernur Ayodhia, menyadari pentingnya hal ini, pada November 2021 Pemerintah Provinsi NTT turut berpartisipasi pada program GII yang kemudian diresmikan pada pertemuan ke-2 Steering Committee Gll pada 10 Februari 2022.
“Workshop GII yang pertama di Nusa Tenggara Timur telah dilaksanakan pada tanggal 18 November 2022 di Labuan Bajo untuk membahas program kerjasama ini dengan mengundang Kementerian dan organisasi terkait dan disusul pembentukan Tim GII Provinsi NTT pada 25 November 2022 serta pertemuan PTF dan NTF yang telah terselenggara pada tanggal 1 Februari 2024 di kantor Kemenko Marves,” paparnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













