Ia juga menekankan pentingnya literasi keuangan agar dana KUR dimanfaatkan secara optimal.
“Jangan sampai pinjaman KUR digunakan untuk keperluan yang tidak produktif seperti pesta dan kebutuhan konsumtif lainnya,” tegasnya.
Untuk aspek pemasaran, Gubernur menyebut NTT Mart sebagai pusat pemasaran resmi produk UMKM, termasuk sebagai pusat oleh-oleh bagi tamu dari luar daerah.
Selain itu, Gubernur mendorong seluruh ASN untuk berbelanja di NTT Mart sebagai bentuk dukungan nyata terhadap perekonomian lokal.
“Jika ada sekitar 6.000 ASN di TTU dan masing-masing membelanjakan Rp100 ribu per bulan, maka akan terjadi transaksi sekitar Rp600 juta setiap bulan,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati TTU Yosep Falentinus Kebo menyampaikan bahwa kehadiran NTT Mart merupakan langkah konkret Pemerintah Provinsi NTT dalam mendorong pengembangan UMKM hingga ke daerah.
“Kami bangga dengan kehadiran NTT Mart di TTU. Dengan lebih dari 1.000 produk UMKM, ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus mengembangkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa NTT Mart memberikan kepastian pasar bagi produk UMKM TTU serta akan dikelola secara kreatif sesuai dengan perkembangan pemasaran ke depan.
Bupati juga mengungkapkan bahwa produk UMKM TTU telah menembus pasar internasional dan akan terus dikembangkan.
“Tahun lalu produk UMKM TTU sudah dipasarkan ke Jepang, dan pada tahun 2026 akan dilanjutkan ke Belanda dan Hongaria,” ungkapnya.
Dalam laporannya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT, Zet Sony Libing, menyampaikan bahwa saat ini terdapat lebih dari 1.200 produk dari 40 pelaku UMKM yang dipasarkan di NTT Mart TTU, dan jumlah tersebut akan terus ditingkatkan melalui fasilitasi pemerintah daerah.*
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













