Johni menegaskan bahwa pendekatan lunak berupa imbauan moral tidak lagi memadai dalam menghadapi ancaman HIV/AIDS. Ia menuntut adanya gerakan kolektif dan terbuka dari seluruh elemen masyarakat.
“Kita tidak bisa hanya mengimbau. Wartawan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat—semua harus bergerak dan bersuara. Ini sudah sangat meresahkan,” tegasnya.
Ia secara khusus mendorong media massa untuk tidak takut stigma dan bersikap defensif. Edukasi publik, menurutnya, harus dilakukan secara terbuka, jujur, dan berkelanjutan, karena bahaya terbesar justru berasal dari kasus-kasus yang belum teridentifikasi.
“Itulah yang paling berbahaya,” katanya.
Dalam pernyataannya, Johni juga mengaitkan persoalan HIV/AIDS dengan tingginya angka stunting di NTT. Ia menyebut kedua persoalan tersebut berakar dari masalah yang sama, yakni kelalaian dan egoisme orang dewasa terhadap hak anak.
“Kalau orang tua tidak mengatur hidup dan keuangannya dengan benar, yang jadi korban adalah anak. Anak stunting karena orang tua tidak mau berkorban,” ujarnya.
Menurut Johni, stunting bukan semata-mata persoalan kemiskinan, melainkan soal prioritas dan tanggung jawab. “Kalau tidak bisa dihilangkan, maka harus dikurangi. Anak adalah kepentingan utama, bukan sisa,” katanya
Johni menegaskan bahwa perang melawan HIV/AIDS dan stunting bukan sekadar program kesehatan, melainkan pertaruhan masa depan NTT dan bangsa.
“Kalau anak-anak tumbuh sehat dan kuat, bangsa ini akan tumbuh sehat. Tapi kalau kita abai, maka kita sedang menyiapkan kehancuran secara perlahan,” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan peringatan keras bahwa tanpa keberanian untuk berbicara dan bertindak sekarang, HIV/AIDS akan terus menjadi bom waktu sosial di NTT.
“Ini bukan soal malu atau tidak malu. Ini soal hidup atau hancur,” pungkas Johni Asadoma.*
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













