Kupang,Timorsavana.com— HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah stadium akhir dari infeksi HIV, ketika daya tahan tubuh sangat lemah dan rentan terhadap berbagai infeksi serius.
Secara umum, HIV menyerang sel CD4 (sel T) yang berperan penting dalam melawan penyakit. Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS dalam kurun waktu sekitar 10 tahun. Namun, dengan pengobatan antiretroviral (ART) yang efektif, perkembangan tersebut dapat dicegah sehingga penderita tetap dapat hidup normal dan produktif.
Penularan HIV terjadi melalui kontak seksual berisiko, darah, serta dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Meski demikian, HIV dapat dicegah dan dikendalikan dengan penanganan yang tepat.
HIV bekerja dengan merusak sel-sel CD4 dalam sistem kekebalan tubuh sehingga daya tahan tubuh melemah secara bertahap. Pada tahap awal, penderita bisa tidak merasakan gejala apa pun atau hanya mengalami gejala ringan seperti flu. Tanda-tanda awal dapat berupa demam, keringat malam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan rasa lemah.
Sementara itu, AIDS merupakan kondisi ketika infeksi HIV telah mencapai stadium akhir, ditandai dengan jumlah CD4 kurang dari 200 sel per mm³. Pada fase ini, tubuh tidak mampu melawan infeksi oportunistik seperti tuberkulosis maupun kanker tertentu, seperti sarkoma Kaposi. Semua penderita AIDS pasti terinfeksi HIV, tetapi tidak semua orang dengan HIV akan berkembang menjadi AIDS, terutama jika mendapatkan pengobatan secara rutin.
Upaya pencegahan HIV dapat dilakukan dengan menggunakan kondom saat berhubungan seksual, menghindari penggunaan jarum suntik secara bersama-sama, melakukan skrining HIV pada ibu hamil, serta tes HIV secara rutin bagi kelompok berisiko. Perlu ditegaskan bahwa HIV bukanlah AIDS, dan seseorang dengan HIV yang menjalani ART secara teratur dapat hidup panjang dan sehat. Diagnosis dini dan pengobatan segera menjadi kunci utama.
Terkait hal tersebut, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, mengeluarkan peringatan keras mengenai bahaya HIV/AIDS yang kian mengkhawatirkan dan mengintai masyarakat Kota Kupang bahkan seluruh wilayah NTT.
Ia menyebutkan bahwa penyebaran HIV di NTT telah berada pada fase darurat senyap, karena banyak kasus belum terdeteksi dan berpotensi menularkan secara luas. Pernyataan itu disampaikan Johni Asadoma kepada wartawan di Rumah Jabatan Wakil Gubernur NTT, Jumat, 2 Januari 2026.
“HIV itu bukan ancaman yang akan datang, tapi sudah ada di depan mata. Ia merusak masa depan, menghancurkan keluarga, dan membunuh harapan generasi. Hubungan tidak sehat harus dihentikan,” kata Johni dengan nada tegas.
Ia menyoroti fakta paling mengerikan dari HIV/AIDS, yakni penularan berantai dalam satu keluarga. Menurutnya, ketika seorang ayah menularkan HIV kepada ibu, lalu berlanjut ke anak, maka yang hancur bukan hanya tubuh, tetapi seluruh sendi kehidupan keluarga.
“Ini bukan teori. Ini sudah terjadi. Korbannya sudah banyak, dan itu sangat ngeri,” ujarnya.
Johni menilai masyarakat masih keliru menganggap HIV sebagai isu kelompok tertentu. Padahal, virus ini tidak mengenal batas sosial, agama, maupun status ekonomi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













