TTS,Timorsavana.com – Bunuh diri adalah fenomena sosial yang semakin mengkhawatirkan, terutama di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana kasusnya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan perspektif psikologi dan penyiaran, terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi peningkatan kasus ini: faktor internal dan eksternal dalam diri individu serta pengaruh media dalam menyebarluaskan informasi tentang bunuh diri.
Aspek Psikologis: Kompleksitas Faktor Penyebab Bunuh Diri
Menurut Rizky Pradita Manafe, M.Psi., Psikolog, yang juga merupakan Dosen Prodi Psikologi Universitas Nusa Cendana (UNDANA) dan Ketua HIMPSI NTT, bunuh diri tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari berbagai faktor yang kompleks. Faktor internal seperti genetika, gangguan kejiwaan, karakteristik kepribadian, serta pola pikir yang salah dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Sementara itu, faktor eksternal seperti dukungan sosial, pola asuh orang tua, dan tekanan lingkungan juga berperan besar dalam membentuk kesejahteraan mental seseorang.
Salah satu penyebab utama meningkatnya angka bunuh diri adalah fenomena atau belajar sosial, sebagaimana dijelaskan dalam teori Albert Bandura. Dalam teori ini, seseorang cenderung meniru perilaku yang ia lihat di sekitarnya, terutama jika faktor internal dan eksternalnya mendukung. Artinya, penyebaran berita bunuh diri, terutama di media sosial dan media massa, dapat memberikan efek domino bagi individu yang sedang mengalami tekanan psikologis.
Untuk mencegah kasus bunuh diri, Rizky menekankan pentingnya sikap empati dan mendukung individu yang mengalami tekanan emosional. Alih-alih menghakimi korban atau menyebarluaskan berita secara sensasional, masyarakat seharusnya mendorong individu yang rentan untuk mencari bantuan profesional. Menurutnya, mencari bantuan psikolog atau konselor bukanlah tanda kelemahan, melainkan upaya menjaga kesehatan mental agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Selain itu, ia juga mengusulkan agar institusi seperti gereja, sekolah, dan pemerintahan menyediakan layanan konsultasi atau hotline sebagai sarana bagi masyarakat yang membutuhkan teman bicara saat mengalami kesulitan mental.
Aspek Penyiaran: Jurnalisme Warga yang Kebablasan
Dari perspektif media, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTT, Drs. Godlif Ricard Poyk, menyoroti peran media dalam menyebarluaskan informasi terkait bunuh diri. Ia menekankan bahwa banyak individu yang mengunggah berita bunuh diri hanya demi mendapatkan views, likes, dan komentar, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat, terutama individu yang rentan secara psikologis.
Ia menyebut fenomena ini sebagai jurnalisme warga yang kebablasan, di mana siapa saja bisa menjadi pewarta berita tanpa memahami kode etik jurnalistik. Akibatnya, banyak informasi sensitif yang seharusnya diblur atau disajikan dengan lebih bertanggung jawab malah disebarluaskan secara utuh, sehingga dapat memicu efek peniruan atau copycat suicide.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













