Saat ini, persiapan penanaman sedang berlangsung dengan penggalian lubang yang dilakukan oleh masyarakat di setiap titik penanaman. Pelibatan masyarakat dalam tahap awal ini tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga meningkatkan rasa kepemilikan terhadap kegiatan rehabilitasi hutan ini.
“Kami melibatkan masyarakat lokal untuk memastikan keberlanjutan program ini. Dengan membangun kesadaran dan memberikan manfaat ekonomi, kami berharap upaya ini tidak hanya akan melestarikan hutan, tetapi juga meningkatkan taraf hidup mereka,” ujar Dolfus
Salah satu tantangan utama dalam kegiatan ini adalah kebiasaan pembakaran lahan oleh masyarakat setempat, yang sering dilakukan untuk membersihkan lahan atau meningkatkan kesuburan tanah. Untuk mengatasi hal ini, BPDAS Benain Noelmina bersama dengan pemerintah daerah terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang dampak negatif dari pembakaran hutan dan lahan, termasuk risiko kebakaran hutan dan kerusakan lingkungan yang dapat menghambat kegiatan penghijauan ini.
“Kami harus bekerja keras untuk mengubah kebiasaan ini. Edukasi dan sosialisasi akan menjadi kunci dalam memastikan masyarakat memahami dampak buruk pembakaran hutan dan terhadap lingkungan dan kegitan rehabilitasi yang sedang kami lakukan,” jelas Dolfus. Dengan penanaman yang ditargetkan selesai pada awal Desember 2024, inisiatif ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan. Produksi kayu putih dan mete, jika dikelola dengan baik, dapat memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat sekaligus melindungi lingkungan dari degradasi lebih lanjut. Kegiatan rehabilitasi ini tidak hanya akan memperbaiki lingkungan di Timor Barat, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta dalam mencapai keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan, tutupnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













