KUPANG– Insiden dugaan tindak kekerasan oleh seorang guru terhadap siswi terjadi saat pelaksanaan ulangan harian mata pelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Atambua, Selasa (24/2/2026). Peristiwa tersebut berlangsung pada jam pelajaran ke-6 hingga ke-8.
Berdasarkan keterangan tertulis guru Biologi berinisial FMA, S.Pd., ulangan harian ke-2 dengan materi “Sistem Ekskresi Manusia” telah dijadwalkan sebelum libur Ramadan. Pada awal ujian, guru menyampaikan adanya kekurangan huruf dalam naskah soal akibat kendala pada laptop yang digunakan.
Ulangan berlangsung selama 90 menit. Pada 10 menit terakhir sebelum bel berbunyi, guru mulai memeriksa hasil pekerjaan siswa. Salah satu soal meminta siswa menggambar nefron ginjal manusia. Dua minggu sebelumnya, siswa telah dibagikan contoh gambar nefron beserta kertas HVS untuk persiapan.
Saat pemeriksaan, guru mendapati sejumlah siswa tidak mengerjakan gambar tersebut. Di meja salah satu siswi berinisial V terdapat botol air mineral ukuran 600 ml. Menurut keterangan guru, botol tersebut digunakan untuk menyentuh dahi beberapa siswa yang tidak menggambar. Situasi kelas disebut dalam keadaan aman dan tidak terjadi kegaduhan.
Setelah ulangan berakhir pukul 11.45 WITA dan guru meninggalkan kelas, terdengar bunyi botol dilempar ke arah tembok. Guru kembali ke kelas dan menanyakan pelaku pelemparan. Sejumlah siswa menyebut nama V. Guru kemudian meminta siswi tersebut duduk kembali dan memberikan teguran lisan sebelum meninggalkan kelas.
Keterangan berbeda disampaikan delapan siswa kelas XI yang dimintai klarifikasi di ruang kepala sekolah. Proses tersebut turut disaksikan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi NTT Wilayah 7, pengawas sekolah, kepala sekolah, wali kelas, guru BK, dan wakil kepala sekolah bidang humas.
Para siswa menyatakan, saat mendapati beberapa siswa tidak mampu menggambar nefron, guru mengucapkan teguran bernada keras. Mereka juga menyebut guru mengambil botol air mineral dari meja V dan mendorongkannya ke pelipis V serta beberapa siswa lain.
Menurut kesaksian siswa, setelah ulangan selesai dan guru kembali ke kelas akibat insiden pelemparan botol, terjadi tindakan fisik berupa penarikan rambut serta dorongan pada bagian kepala V, disertai ucapan bernada ancaman.
Tak lama setelah kejadian tersebut, V dilaporkan mengalami sesak napas dan menangis histeris di dalam kelas. Teman-temannya berupaya menenangkan dan memberikan pertolongan awal, termasuk menghubungi wali kelas.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













