Dari Kelimutu ke Rumah Bung Karno: Menyulam Indonesia di Tanah Ende

Reporter : Jack Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260601 WA0029

“Safari Kebangsaan FPK NTT di Ende menjadi perjalanan merawat persatuan. Dari puncak Kelimutu hingga jejak pengasingan Bung Karno, peserta lintas suku dan agama menyulam semangat Indonesia dalam keberagaman”

Timorsavana.com, ENDE || Pagi itu, kabut masih menggantung di lereng Kelimutu ketika puluhan peserta Safari Kebangsaan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Nusa Tenggara Timur perlahan mendaki menuju puncak. Udara dingin menusuk kulit, tetapi semangat yang mereka bawa terasa hangat.

Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Ada yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Rote, Tionghoa, Betawi, Sunda, hingga Flores sendiri. Namun di gunung yang menjadi ikon Kabupaten Ende itu, perbedaan seolah melebur menjadi satu identitas yang sama: Indonesia.

Perjalanan tersebut merupakan bagian dari Safari Kebangsaan FPK NTT yang berlangsung sejak 28 Mei hingga 2 Juni 2026. Dipimpin Siprianus Reda, ST, rombongan berangkat dari Kupang menggunakan KM Wilis menuju Ende, kota yang menyimpan banyak jejak sejarah bangsa.

Setibanya di Ende pada 29 Mei, peserta tidak langsung menikmati objek wisata. Mereka terlebih dahulu diterima secara adat di Desa Wisata Waturaka oleh Mosalaki Yohan dan Kepala Desa Yoseph Wawo.

Di tengah sambutan adat yang sarat makna, rombongan menyerahkan bantuan sembako kepada warga setempat. Bukan tentang nilai bantuannya, melainkan tentang pesan yang dibawa: kebersamaan harus memberi manfaat bagi sesama.

Malam itu, pentas budaya berlangsung sederhana namun hangat. Tarian, lagu, dan tawa menyatu dalam suasana persaudaraan yang sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari yang serba cepat.

Keesokan harinya, 30 Mei, puncak Kelimutu menjadi saksi sebuah peristiwa yang tak biasa. Di tempat yang dikenal dunia karena tiga warna danaunya, peserta Safari Kebangsaan menggelar upacara bendera.

Baca Juga :  Viktor Manbait Desak Penuntasan Kasus Illegal Logging di TTU

Sang Merah Putih berkibar di antara kabut pegunungan. Ketua FPK NTT, Ir. Theodorus Widodo, bertindak sebagai inspektur upacara. Pengibar bendera berasal dari K2S Jawa, sementara doa dipimpin oleh peserta dari KKSS. Sebuah gambaran sederhana tentang Indonesia yang bekerja bersama tanpa melihat perbedaan asal-usul.

Di Kelimutu, nasionalisme tidak terdengar dalam pidato panjang. Ia hadir dalam tindakan sederhana: berdiri tegak menghormati bendera bersama orang-orang yang berbeda suku, agama, dan budaya.

Perjalanan kemudian membawa rombongan menuju Air Tiga Rasa dan kolam air panas Waturaka. Di tempat-tempat itu, percakapan mengalir ringan, tetapi sesungguhnya sedang membangun sesuatu yang lebih besar: saling mengenal dan saling memahami.

  • Bagikan