Memasuki 31 Mei, perjalanan berubah menjadi ziarah sejarah. Rombongan mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno di Kampung Amburaga, Kota Ende. Rumah sederhana itu pernah menjadi tempat Presiden pertama Republik Indonesia menjalani masa pengasingan antara tahun 1934 hingga 1938.
Di kota kecil inilah Bung Karno banyak merenung tentang masa depan bangsa. Dari Ende pula lahir berbagai gagasan yang kelak menjadi fondasi Pancasila.
Tidak jauh dari sana, peserta berdiri di Taman Renungan Bung Karno. Di bawah pohon sukun yang melegenda, mereka mencoba membayangkan bagaimana seorang tokoh bangsa merajut pemikiran tentang persatuan ketika Indonesia bahkan belum merdeka.
Perjalanan berlanjut ke Nuabosi. Di kawasan pegunungan yang sejuk itu, para peserta diterima secara adat oleh Mosalaki dan pemerintah desa. Mereka diajak mencabut ubi kayu langsung dari kebun, merasakan kehidupan masyarakat yang begitu dekat dengan alam.
Malam ramah tamah di Nuabosi menjadi salah satu momen paling berkesan. Lagu dangdut dan tarian gawi menghangatkan suasana. Namun yang paling membekas justru saat seluruh peserta menyanyikan lagu “Ave Maria” bersama-sama.
Tidak ada sekat agama malam itu. Peserta Muslim, Katolik, Protestan, Hindu, dan latar belakang lainnya berdiri dalam satu lingkaran yang sama. Lagu tersebut bukan lagi soal identitas agama, melainkan simbol penghormatan terhadap keyakinan sesama.
Puncak Safari Kebangsaan berlangsung pada 1 Juni 2026 saat seluruh peserta mengikuti Upacara Hari Lahir Pancasila di Lapangan Pancasila Ende yang dipimpin Menteri Sosial Saifullah Yusuf.
Di kota tempat Bung Karno pernah diasingkan, mereka memperingati hari lahir ideologi yang menyatukan bangsa. Sebuah peristiwa yang terasa lebih bermakna karena berlangsung tepat di tanah tempat gagasan-gagasan besar itu pernah tumbuh.
Perjalanan ditutup di Serambi Bung Karno, kompleks Biara SVD Ende. Di tempat inilah Bung Karno dahulu meminjam buku-buku dari para misionaris. Dari ruang sederhana itu, ia memperluas cakrawala berpikirnya tentang kemanusiaan, kebangsaan, dan masa depan Indonesia.
Dan di Ende, semangat itu masih terasa hidup hingga hari ini.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













