Menurutnya, Indonesia masih mengalami kekurangan dokter spesialis, termasuk persoalan distribusi yang belum merata sehingga akses dan mutu layanan kesehatan belum optimal. Hal ini menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto, yang dalam taklimat kepada 1.200 rektor dan guru besar di Istana Negara pada 15 Januari 2026 serta dalam Sidang Tahunan DPR RI 15 Agustus 2025 menginstruksikan pembukaan 148 prodi baru di 57 fakultas kedokteran, terdiri atas 125 prodi spesialis dan 23 prodi subspesialis, serta peningkatan kuota beasiswa mahasiswa kedokteran.
Kemendiktisaintek bahkan telah melampaui target dengan membuka 160 prodi baru, sehingga total prodi PPDS nasional meningkat dari 366 menjadi 526 prodi. Penambahan prodi PPDS difokuskan di 11 provinsi yang masih kekurangan dokter spesialis dan baru pertama kali memiliki prodi PPDS, termasuk NTT, Maluku, dan Papua.
Kemendiktisaintek juga menjalin kerja sama dengan 219 rumah sakit daerah, 130 rumah sakit Muhammadiyah, 32 rumah sakit Hermina, serta 35 rumah sakit Siloam untuk mendukung pelaksanaan PPDS dan penempatan residen senior.
Pemerintah daerah Bali–Nusra diharapkan memberikan dukungan melalui bantuan biaya pendidikan, beasiswa, insentif, peniadaan retribusi pendidikan di rumah sakit milik pemda, serta penguatan fasilitas rumah sakit daerah. Rektor dan dekan juga diminta memastikan lulusan PPDS kembali mengabdi ke daerah asal dengan jaminan keselamatan dan kesejahteraan serta pendidikan kedokteran yang bebas dari kekerasan.
Gubernur NTT Emanuel Melkiedes Laka Lena menegaskan bahwa sebagai wilayah kepulauan dengan kondisi geografis dan sosial yang beragam, NTT menghadapi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan. Dari 22 kabupaten/kota yang ada, NTT masih tergolong wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Karena itu, kehadiran Prodi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bali–Nusra dinilai sangat strategis dan relevan, terutama untuk membuka akses yang lebih luas bagi putra-putri NTT menempuh pendidikan spesialis di daerah sendiri.
Secara khusus, program spesialis anestesi intensif dan ginekologi sangat dibutuhkan di NTT guna menekan angka kematian ibu melahirkan serta mengurangi rujukan pasien ke luar daerah.*

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













