Topik : 

Yayasan PIKUL Suarakan Keadilan Iklim, Inklusi Sosial, dan Ketahanan Pangan Pada HUT KE-66 NTT

  • Bagikan
Nelayan menaikan perahu NBS
Nelayan menaikkan perahu di NBS. Credit. Yayasan PIKUL

Selama ini segala aktivitas petani, nelayan disesuaikan dengan keadaan iklim dan kondisi geografis di sekitar mereka. Termasuk sistem pertanian yang dilakukan masyarakat yaitu pertanian lahan kering. Sedangkan untuk nelayan, sebagian besar adalah nelayan artisanal (nelayan tradisional yang memiliki alat tangkap sederhana dan wilayah tangkap di sekitar pesisir pantai) atau yang lebih umum disebut nelayan tradisional.

Menurut Adger, et.al (2003), risiko yang terkait dengan perubahan iklim nyata tetapi sangat tidak pasti. Kerentanan masyarakat terhadap risiko yang terkait dengan perubahan iklim dapat memperburuk tantangan sosial dan ekonomi yang sedang berlangsung, khususnya bagi bagian masyarakat yang bergantung pada sumber daya yang sensitif terhadap perubahan iklim. Risiko tampak jelas dalam pertanian, perikanan, dan banyak komponen lain yang merupakan sumber mata pencaharian.

Dampak perubahan iklim seperti kekeringan ekstrim, banjir, dan kenaikan suhu telah mengganggu kehidupan masyarakat, khususnya kelompok rentan. Di sisi lain, masalah struktural inklusi sosial masih menjadi pekerjaan rumah, di mana perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok minoritas seringkali terpinggirkan dari akses layanan atas hak dan kesempatan.

Laporan Assessment ke 6 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2022, menekankan pada pentingnya adaptasi berkeadilan yang merupakan proses penyesuaian terhadap dampak perubahan iklim dengan memprioritaskan kelompok rentan dan terpinggirkan agar tidak semakin dirugikan. Laporan AR6 menekankan bahwa adaptasi yang efektif dan adil membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, inklusif, dan transformatif yang mempertimbangkan kerentanan, ketidaksetaraan, dan keadilan sosial yang diwujudkan dengan mengintegrasikan aspek inklusivitas, kesetaraan, dan partisipasi publik dalam perencanaan, implementasi, dan pemantauan program adaptasi. Namun hingga saat ini, aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim masih bersifat terpisah sehingga berbagai indikator pembangunan belum memasukan dan melihat pentingnya indikator kemampuan adaptif.

Baca Juga :  Kerja sama Tim Tabur Kejati NTT berhasil Tangkap DPO kasus pelecehan Anak

Padahal jelas bahwa pengurangan kerentanan dan adaptasi terhadap perubahan iklim juga harus dilihat sebagai isu keadilan iklim dan pembangunan yang berkeadilan iklim (IPCC, 2022).
“Aksi adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim berdampak pada masyarakat dan lingkungan. Peristiwa cuaca ekstrem, seperti kekeringan, banjir, gelombang pasang, penurunan muka tanah, serta kebakaran hutan dan lahan, telah mengakibatkan banyak orang kehilangan tempat tinggal, menimbulkan korban jiwa, merusak mata pencaharian nelayan, petani, dan masyarakat adat, serta mengganggu perekonomian lokal.

  • Bagikan