Kelompok-kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, perempuan, anak-anak, lansia, masyarakat miskin di perkotaan dan pedesaan, petani kecil, serta nelayan tradisional menghadapi beban yang jauh lebih berat akibat kurangnya kemampuan dan dukungan untuk bertahan” (Torry Kuswardono, Direktur Eksekutif Yayasan Pikul).
Dalam konteks RPJMD dan visi misi Pemerintah Daerah, adaptasi berkeadilan harus diterjemahkan menjadi isu utama dalam dokumen perencanaan yang mempertimbangkan kerentanan spesifik kelompok marginal (misalnya, masyarakat adat, perempuan, kelompok disabilitas, petani kecil, dan nelayan), NTT sebagai provinsi kepulauan terhadap dampak perubahan iklim, serta memberdayakan mereka melalui peningkatan kapasitas, mampu mengakses terhadap sumber daya, dan penguatan kelembagaan lokal, sehingga kesejahteraan dan ketahanan kelompok marginal terhadap perubahan iklim terjamin selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan.
Tidak hanya mengangkat capaian pertumbuhan ekonomi semata tanpa adanya komitmen dan upaya nyata dalam penanganan perubahan iklim yang berkeadilan.
Di sektor ketahanan pangan, prevalensi Ketidakcukupan Pangan di NTT sebesar 13,74%, lebih tinggi dari nasional dan wilayah Nusa Tenggara (Bali dan NTB). Hasil penelusuran kompas.id menyebutkan bahwa NTT mengalami defisit beras yang cukup besar, mencapai 125.390 ton pada triwulan pertama tahun 2024. Pasokan lokal hanya mampu memenuhi 23% dari kebutuhan beras masyarakat. Rata-rata produktivitas padi di NTT hanya 4,15 ton per hektar, jauh lebih rendah dibandingkan dengan provinsi lain seperti Bali dan Jawa Timur. Artinya bahwa masyarakat NTT masih mengalami ketergantungan beras yang dipasok dari daerah luar NTT dan rata-rata orang NTT mengkonsumsi beras 117,19 Kg beras dalam satu tahun (sumber : kompas.id).
Hasil penelusuran Yayasan PIKUL (2013) dalam pemetaan pangan lokal yang dilakukan di Pulau Timor bagian barat (Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan), Pulau Rote Ndao, Pulau Sabu dan Pulau Lembata menemukan 36 jenis sumber pangan baik berupa serealia (jagung, padi, sorgum, jali, jewawut), umbi umbian (keladi, talas, singkong, ganyong, ubi jalar dan berbagai umbi hutan) serta beragam kacang kacangan. Berbagai jenis pangan lokal tersebut masih dibudidayakan di kebun-kebun, pekarangan, bekas kebun maupun tumbuh liar di hutan dan dirawat alam.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













