“Kami sudah kasih kelola, tapi fasilitas rusak semua. Pengunjung pun tidak nyaman. Jadi kami segel, supaya dinas turun dan selesaikan status lahan dan perbaiki fasilitas,” ujar Marthen sambil menunjuk ke arah bangunan cottage yang tampak terbengkalai.
Warga lain, Yuna Kase, turut melontarkan kekecewaan atas ketidakjelasan pengelolaan dan dugaan penyelewengan dana hasil karcis. “Itu yang buat kami masyarakat resah. Apa pos jaga itu punya fungsi atau tidak? Satu mobil bayar Rp50 ribu, tapi karcis cuma Rp5.000. Sisa Rp45.000 ke mana?” tanyanya.
Yuna juga menyoroti sosok penjaga berinisial MS yang menurutnya sudah lima bulan tidak berada di lokasi. “Tidak tahu oknum ini dari dinas atau bukan. Malah digantikan orang lain, Yoseph Aplugi, yang pungut uang bukan di pos tapi di terminal. Ini aneh,” ujarnya geram.
Masyarakat menilai pemerintah daerah telah lalai dalam mengawasi pengelolaan tempat wisata ini. “Kami cuma mau tahu, apakah uang itu disetor ke daerah atau tidak? Kenapa tidak ada perubahan di tempat ini?” cetus Yuna.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













