Peter Salem, petani muda asal TTS, menginspirasi banyak orang dengan semangatnya dalam mengembangkan pertanian. Dengan tanah yang subur dan strategi pertanian yang baik, ia yakin pertanian bisa menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Soe, TIMOR SAVANA.COM – Peter Salem, seorang petani muda dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), menjadi inspirasi bagi banyak orang. Di tengah tantangan pertanian, ia tetap optimis bahwa TTS memiliki potensi besar di sektor ini. Dengan tanah yang subur dan alam yang mendukung, ia yakin bahwa pertanian bisa menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Menurut Peter, tanah di TTS telah diberkati sejak ribuan tahun lalu. Namun, kesuburan tanah saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan teknik pengelolaan yang baik. “Tidak ada yang gagal dalam bertani, kecuali jika kita tidak memahami cara mengelola lahan,” ujarnya. Bagi Peter, keberhasilan pertanian bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam agar memberikan hasil terbaik.
Dalam menghadapi hama yang menyerang tanaman seperti cabai, jagung, dan tanaman umur panjang lainnya, Peter menerapkan strategi yang unik. Ia percaya bahwa hal pertama yang harus dimiliki seorang petani adalah rasa memiliki terhadap tanaman. “Kalau kita mencintai apa yang kita tanam, kita akan merawatnya dengan penuh perhatian. Kita bisa melihat pertumbuhannya, mengenali masalahnya, dan segera mencari solusinya,” katanya.
Konsistensi adalah kunci dalam pertanian. Peter menekankan bahwa merawat tanaman bukan sekadar rutinitas, tetapi juga bagian dari proses memahami kehidupan tanaman itu sendiri. Dengan observasi rutin, ia dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memberikan pupuk atau insektisida agar tanaman tetap sehat dan produktif. “Kalau asal memberi pupuk, daun bisa menguning, buah bisa rontok. Tapi kalau nutrisi tercukupi, tanaman akan lebih kuat,” jelasnya.
Saat ini, Peter telah berhasil memanen sekitar 600 kilogram cabai dengan harga jual Rp45.000 per kilogram. Namun, jumlah ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi permintaan pasar di TTS. Ia mengakui bahwa dengan luas lahan yang ia kelola saat ini, produksi masih terbatas. “Pasar masih butuh lebih banyak hasil pertanian. Saya tidak bisa bergerak sendiri. Kita harus berkolaborasi agar bisa menjadi supplier yang lebih besar,” katanya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













