SEBUAH CATATAN
TIMOR SAVANA.COM, Dirgahayu Provinsi NTT. Peringatan ulang tahun ke-66 Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), refleksi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi menjadi sangat penting. Meskipun telah mencapai usia enam dekade, NTT masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan signifikan yang mempengaruhi kesejahteraan masyarakatnya.
NTT menempati posisi sebagai provinsi termiskin keempat secara nasional. Data BPS menunjukkan bahwa pada Maret 2024, angka kemiskinan di NTT mencapai 19,48%, dengan jumlah penduduk miskin sekitar 1,13 juta jiwa.
Prevalensi stunting di NTT juga menjadi perhatian serius, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 37,9%. Angka ini menjadikan NTT sebagai provinsi kedua dengan prevalensi balita stunting tertinggi di Indonesia setelah Provinsi Papua Pegunungan.
Indeks Pembangunan Manusia di NTT berada pada kategori ‘Sedang’. Pada tahun 2023, IPM NTT tercatat sebesar 68,40 meningkat dari 65,90 pada 2022, namun masih di bawah rata-rata nasional.
NTT menghadapi tantangan serius terkait kerusakan lingkungan dan perampasan tanah guna membangun Geotermal di beberapa titik di Flores, penurunan status gunung Mutis menjadi taman nasional dan Aktivitas seperti penebangan hutan secara ilegal, pertambangan tanpa izin, dan alih fungsi lahan telah menyebabkan degradasi lingkungan yang signifikan. Selain itu, konflik agraria akibat perampasan tanah oleh pihak-pihak tertentu telah menambah kompleksitas permasalahan sosial di daerah ini.
Kasus kekerasan terhadap ibu dan anak di NTT menjadi perhatian serius. Data DP3A Provinsi NTT kasus Kekerasan terdata ada sebanyak 227 kasus hingga Agustus 2024. Jumlah kasus pada 2024 diprediksi bisa melebihi tahun sebelumnya.Penegakkan hukum yang tegas adalah upaya menekan peningkatan kasus.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













