Perubahan fungsi Cagar Alam Mutis menjadi Taman Nasional Mutis terus menuai perhatian publik. Dalam diskusi bertema *Quo Vadis Mutis* yang digelar di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, anggota DPRD Provinsi NTT dari Komisi IV, Nelson Matara, mengajukan 18 pertanyaan kritis terkait dampak perubahan tersebut. Diskusi ini turut menghadirkan Usif Lif Oematan (Sonaf Oematan) Keyatanus Abi(Ketua Forum Sejarah dan Budaya Timor), BKSDA NTT, akademisi Undana, dan WALHI NTT sebagai narasumber.
Sebagai wakil rakyat, Nelson Matara menegaskan perannya untuk memastikan suara masyarakat adat dan lingkungan menjadi pertimbangan utama. Dalam diskusi, ia mengangkat sejumlah isu strategis yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan ekosistem Mutis dan kehidupan masyarakat sekitarnya. Salah satu perhatian utama Matara adalah perlindungan pohon Ampupu, yang merupakan spesies khas kawasan tersebut. “Apakah setelah menjadi taman nasional, pohon Ampupu akan ditebang dan diganti dengan tanaman budidaya lain?” tanyanya.
Matara juga mempertanyakan rencana pengelolaan taman nasional jika melibatkan pihak investor. “Apakah benar setelah menjadi taman nasional, pengelolaannya akan diserahkan kepada investor? Jika terdapat potensi tambang emas di dalam kawasan ini, apakah nantinya akan dieksploitasi oleh pihak taman nasional?” ujarnya. Kekhawatiran ini mencerminkan ketidakpastian masyarakat tentang dampak ekonomi dan ekologi dari perubahan status tersebut.
Isu pembangunan infrastruktur di kawasan Gunung Mutis menjadi salah satu pertanyaan paling kontroversial. “Apakah benar setelah menjadi taman nasional, akan dibangun hotel di atas Gunung Mutis?” Pertanyaan ini menyoroti kekhawatiran akan perubahan fungsi kawasan suci menjadi komersial.
Lebih lanjut, Matara juga menyoroti dampak perubahan status terhadap objek wisata di luar kawasan taman nasional. “Apakah objek wisata di luar taman nasional masih akan diperhatikan? Apakah masyarakat setempat akan tetap mendapatkan manfaat ekonomi dari pengelolaan pariwisata ini?” Pertanyaan tersebut mencerminkan komitmennya untuk melindungi hak-hak masyarakat setempat.
Diskusi berlangsung dengan penuh dinamika, di mana Nelson Matara terus menegaskan pentingnya transparansi dan keterlibatan masyarakat dalam setiap keputusan terkait perubahan fungsi kawasan Mutis. Ia menekankan bahwa kawasan Mutis memiliki nilai ekologi, sosial, dan budaya yang harus dijaga dengan cermat.
Di hadapan para narasumber dan peserta diskusi, Matara menegaskan bahwa perannya adalah menjadi penjaga kepentingan masyarakat. “Sebagai wakil rakyat, kami akan terus memposisikan diri sebagai mediator antara pemerintah dan masyarakat. Keputusan apa pun yang diambil harus memastikan keberlanjutan lingkungan dan perlindungan masyarakat adat yang telah menjaga kawasan ini selama berabad-abad,” tutupnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













