Namun, kondisi DAS Benain dan Noelmina saat ini menunjukkan adanya penurunan kapasitas penyangga lingkungan, sebagaimana ditemukan oleh Forum DAS NTT dan ICRAF Indonesia melalui evaluasi dan pemantauan yang dilakukan. Kerusakan DAS terlihat dari bertambahnya luas lahan kritis serta meningkatnya frekuensi bencana alam, seperti kekeringan dan banjir.
Peneliti ICRAF, Ni’matul Khasanah, mengungkapkan bahwa berdasarkan kajian hidrologi yang mereka lakukan, sekitar 47% area DAS Benain (setara dengan 152 ribu hektar) berada dalam kondisi kritis dan memerlukan tindakan pemulihan, termasuk reboisasi dan pembangunan infrastruktur air hujan. Di DAS Noelmina, 62% wilayahnya (sekitar 116 ribu hektar) juga menghadapi masalah serupa.
Temuan ini menjadi dasar penting dalam proses pemutakhiran RPDAST, yang juga melibatkan masukan dari para pemangku kepentingan. Kolaborasi lintas wilayah dan sektor menjadi kunci untuk memastikan pengelolaan DAS yang lebih efektif, dengan BAPPEDA Provinsi NTT serta BAPPEDA Kabupaten TTU, Belu, Malaka, TTS, dan Kupang berperan sebagai fasilitator utama.
“Pengelolaan DAS yang baik harus dilakukan secara terpadu dan melibatkan berbagai pihak. Karena DAS tidak terbatas oleh batas administrasi, kerjasama lintas wilayah dan sektor sangat dibutuhkan,” tambah Ludji.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe













