oleh : Melani Olivia Hunga, Mahasiswa ilmu politik Universitas Nusa Cendana Kupang
Kupang,timorsavana.com || Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini, pahlawan emansipasi wanita Indonesia. Bukan sekadar perayaan simbolik dengan kebaya dan lomba semata, tetapi menjadi ruang refleksi tentang keadaan perempuan hari ini, terutama perempuan di Nusa Tenggara Timur.
Di tengah kekayaan budaya dan sumber daya alam yang dimiliki daerah ini, masih banyak perempuan yang hidup dalam ketidakadilan sosial.
Menurutnya Perempuan di NTT masih menghadapi persoalan yang kompleks. Kemiskinan, rendahnya akses pendidikan, terbatasnya lapangan kerja, serta budaya patriarki membuat banyak perempuan berada dalam posisi rentan. Tidak sedikit anak perempuan putus sekolah karena faktor ekonomi, lalu terjebak dalam lingkaran ketergantungan dan keterbatasan masa depan. Dalam kondisi seperti itu, sebagian perempuan akhirnya memilih pekerjaan sebagai LC (Ladies Companion) di tempat hiburan malam sebagai jalan bertahan hidup. Pilihan ini sering lahir bukan karena keinginan bebas, tetapi karena himpitan ekonomi, minimnya kesempatan kerja, dan absennya perlindungan sosial dari negara.
Fenomena ini harus dibaca dengan jujur dan manusiawi. Mudah bagi masyarakat untuk menghakimi perempuan yang bekerja di ruang hiburan malam, tetapi sering lupa bertanya: mengapa kesempatan kerja layak begitu sempit? Mengapa banyak perempuan muda harus menanggung beban ekonomi keluarga seorang diri? Mengapa pendidikan dan pelatihan kerja belum mampu menjangkau mereka? Ketika negara gagal menyediakan keadilan ekonomi, tubuh dan tenaga perempuan sering menjadi korban pertama dari sistem yang timpang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe







