MBG : Dari Piring Anak ke Proyek Atribut

Reporter : Lia kiki Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260424 WA0013

Oleh : Gian gifandi malelak, Mahasiswa prodi ilmu politik Universitas Nusa Cendana Kupang. 

Kupang,Timorsavana.com || Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal dirancang sebagai jaminan hak dasar anak—sebuah kebijakan yang menempatkan “piring anak” sebagai pusat perhatian negara. Tujuannya jelas: memastikan asupan gizi yang memadai demi mendukung tumbuh kembang dan kesejahteraan generasi masa depan.

Namun dalam praktik pelaksanaannya, arah kebijakan ini mulai memunculkan tanda tanya. Sejumlah komponen anggaran justru terkesan bergeser dari kebutuhan substantif menuju “atribut proyek” yang sarat simbol aparatur dan fasilitas pendukung, alih-alih fokus pada pemenuhan kebutuhan gizi itu sendiri.

Pada tahun 2026, anggaran MBG yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN) mencapai sekitar Rp335 triliun. Secara struktur, dana tersebut dialokasikan untuk bahan baku makanan, operasional dapur, serta insentif bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sekitar 70 persen anggaran digunakan untuk bahan makanan, 20 persen untuk operasional, dan 10 persen untuk insentif pengelola.

Komposisi ini pada dasarnya sudah mencerminkan prioritas yang cukup jelas. Namun persoalan muncul ketika di luar struktur utama tersebut, muncul pengeluaran-pengeluaran yang dipertanyakan urgensinya.

Salah satunya adalah pengadaan 21.800 hingga 25.000 unit motor listrik bagi Kepala SPPG, dengan total nilai mencapai sekitar Rp1,39 triliun—di mana sekitar Rp1,2 triliun dialokasikan khusus untuk kendaraan tersebut. Setiap unit motor dibanderol sekitar Rp48–49 juta melalui e-Katalog 6.0, dengan dalih mendukung mobilitas operasional.

Di sinilah kritik publik menguat. Dalam konteks program yang berorientasi pada pemenuhan gizi, pengadaan kendaraan dengan nilai besar dinilai tidak langsung berkorelasi dengan peningkatan kualitas layanan pangan. Pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah mobilitas aparatur lebih mendesak dibanding ketersediaan bahan pangan, distribusi logistik, atau peningkatan fasilitas dapur?

  • Bagikan