Kartini Belum Tiba di NTT: Ketika Perempuan Masih Bertahan di Tengah Ketidakadilan

Reporter : Lia kiki Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260424 WA0002

Selain itu, perempuan dan anak di NTT juga masih menjadi kelompok paling rentan terhadap kekerasan seksual, perdagangan orang, perkawinan usia dini, eksploitasi tenaga kerja, dan diskriminasi. Mereka mengalami kerentanan berlapis: karena gender, karena kemiskinan, dan karena lemahnya perlindungan hukum. Inilah wajah nyata ketimpangan yang masih jauh dari cita-cita emansipasi R.A. Kartini.

Kartini memperjuangkan agar perempuan memperoleh pendidikan, martabat, dan kebebasan menentukan masa depan. Maka, semangat Kartini hari ini di NTT bukan hanya soal seremoni, tetapi bagaimana membuka akses sekolah bagi anak perempuan, menyediakan lapangan kerja yang bermartabat, melindungi korban kekerasan, serta memberi ruang kepemimpinan bagi perempuan di desa maupun kota. Perempuan NTT tidak butuh belas kasihan, mereka butuh kesempatan yang adil.

Hari Kartini harus menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat. Jangan biarkan perempuan terus dipaksa memilih jalan hidup yang lahir dari keterpaksaan ekonomi. Jangan biarkan anak perempuan kehilangan masa depan karena kemiskinan. Jangan biarkan tubuh perempuan menjadi tempat sistem melampiaskan ketidakadilan.

Jika masih banyak perempuan di NTT bertahan hidup dalam sunyi, menanggung beban keluarga, dan dipandang rendah karena pilihan yang dipaksa keadaan, maka perjuangan Kartini belum selesai. Kartini masa kini ada di pasar-pasar, di kampung-kampung, di tempat kerja, di ruang kelas, bahkan di lorong-lorong kehidupan yang keras mereka yang tetap berdiri, melawan keadaan, dan berharap suatu hari diperlakukan setara sebagai manusia.*

  • Bagikan